5 Warga Semarang hingga Majalengka Curhat Panas Ekstrem, Maruli: Panasnya Cirebon Tolop-Tolop
Cuaca yang panas akhir-akhir ini, membuat warga di Cirebon tak betah berlama-lama di bawah teriknya sinar Matahari.
Ringkasan Berita:
- Cuaca panas dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C memang tengah melanda berbagai wilayah Indonesia
- Kondisi tersebut, disebabkan oleh kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia
- Warga di Semarang, Jawa Tengah hingga Majalengka, Jawa Barat mengeluhkan cuaca panas
TRIBUNNEWS.COM - Cuaca panas akhir-akhir ini membuat banyak warga mengeluhkan kondisi hingga menyampaikan apa yang dirasakan di akun media sosial masing-masing.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C memang tengah melanda berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut disebabkan oleh kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.
Monsun Australia merupakan perubahan pergerakan angin dari benua Australia menuju Asia dengan melewati Indonesia, biasanya terjadi bulan April-Oktober.
Angin ini menyebabkan Australia mengalami musim dingin dan Asia mengalami musim panas, sebagaimana dilansir Serambinews.com.
5 Curhat Warga Semarang hingga Majalengka
1. Warga Majalengka: Baru Rasakan Sepanas Ini
Tentang panas ekstrem ini, warga di sejumlah daerah pun merasakannya. Termasuk warga Majalengka, Jawa Barat.
M. Ibin Nugraha, warga Perum BCA, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, menceritakan dirinya baru merasakan panas seterik ini.
“Saya sudah puluhan tahun tinggal di Majalengka, baru kali ini merasakan cuaca sepanas ini, terutama di Cigasong,” katanya, Rabu (15/10/2025), dilansir TribunJabar.id.
Baca juga: Daftar Wilayah dengan Cuaca Terpanas di Indonesia Menurut BMKG, Suhu Capai 37,6°C
2. Warga Majalengka Kulo: Seperti di Dalam Oven
Hal senada disampaikan Ibrahim Thalib, warga Majalengka Kulon.
Menurut Ibrahim, hawa panas sudah dirasakan sejak lebih dari satu bulan terakhir.
“Ya betul, panas sekali. Siang hari bahkan terasa seperti di dalam oven,” ungkapnya.
3. Warga Cirebon: Panasnya Gak Kita-kira, Tolop-tolop
Suhu yang sama dirasakan Maruli, warga di Cirebon, Jawa Barat.
Cuaca panas membuat warga tak betah berlama-lama di bawah teriknya sinar Matahari.
Banyak di antaranya memilih berteduh di bawah pohon atau mencari ruangan berpendingin udara.
Lantas, banyak warga yang menyebut kondisi tersebut sebagai “panas tolop-tolop”.
Panas tolop-tolop adalah istilah lokal yang menggambarkan hawa panas yang menusuk kulit.
"Ya benar, akhir-akhir ini panasnya Cirebon gak kira-kira, tolop-tolop."
"Saya saja harus nyari tempat adem, makanya suka ke minimarket sekadar menurunkan suhu panas," ucap Marulis.
Dikutip dari TribunCirebon.com, fenomena “panas tolop-tolop” ini diprediksi masih akan dirasakan warga hingga akhir Oktober mendatang.
4. Warga Ngaliyan, Semarang: Rasanya Kayak Terbakar
Cuaca panas ekstrem turut dirasakan warga Kota Semarang, Jawa Tengah.
Berbagai cara dilakukan warga agar tetap bisa beraktivitas tanpa terkena paparan matahari langsung.
Termasuk Wulandari (34), warga Kecamatan Ngaliyan, yang memilih menjemur pakaian di dalam rumahnya yang lebih teduh. Biasanya, Wulandari menjemur di halaman belakang.
“Kalau di luar rasanya kayak terbakar. Panas sekali, jadi saya jemur di dalam saja,” ujar Wulandari saat ditemui Kompas.com, Rabu (15/10/2025).
Meski butuh waktu lebih lama agar pakaian kering, Wulandari mengaku cara ini lebih aman.
Wulandari harus menata tali jemuran di ruang cuci dekat dapur, agar sinar matahari tetap bisa masuk melalui ventilasi.
“Biasanya dua jam sudah kering kalau di luar. Sekarang bisa empat jam. Tapi tidak apa-apa, yang penting tidak pusing karena panas,” ceritanya.
5. Mijen, Warga Semarang Senang Jemuran Cepat Kering, tapi Panas
Sementara itu, Dina, ibu rumah tangga asal Kecamatan Mijen, Semarang, tetap memilih menjemur pakaian di luar rumah karena lebih cepat kering.
Namun, ia mesti menahan teriknya matahari ketika menjemur pakaian.
“Ya senangnya kalau panas seperti ini jadi cepat kering. Tapi ya panas banget,” ujarnya.
Baca juga: Panas Nyaris 38°C, BMKG Ungkap Kenapa Indonesia Terasa Seperti Terpanggang
Penjelasan BMKG soal Cuaca Panas Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan cuaca panas dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C di berbagai daerah karen kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.
Kondisi panas ini diprakirakan masih akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025.
Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, penyebab utama suhu panas adalah posisi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober berada di selatan ekuator.
Lantas, faktor lainnya adalah penguatan angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan hangat sehingga pembentukan awan minim serta radiasi matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.
“Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia” kata Guswanto di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengungkapkan data BMKG mencatat pengamatan suhu maksimum mencapai di atas 35°C menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia.
Adapun wilayah yang paling berdampak suhu tinggi meliputi sebagian besar Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta beberapa wilayah Papua.
Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat sebesar 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat).
Kemudian, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT) pada 13 Oktober 2025. Suhu kembali meningkat pada 14 Oktober 2025, berkisar antara 34–37°C.
Beberapa wilayah seperti Kalimantan, Papua, Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan suhu maksimum 35–37°C. Wilayah Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua) juga menunjukkan peningkatan suhu hingga 37,6°C.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, khususnya pada siang hari.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunCirebon.com dengan judul Panas Tolop-tolop di Cirebon, Matahari Terasa Menusuk Kulit, Ini Penjelasan BMKG Kertajati dan di TribunJabar.id dengan judul Cuaca Majalengka Panas Ekstrem hingga Akhir Oktober, Warga Diminta Sering Minum Air Putih
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, TribunCirebon.com/Eki Yulianto, TribunJabar.id/Adhim Mugni M, SerambiNews.com/Riski Bintang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Cuaca-panas-di-cirebon.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.