Kementerian Pertanian Pastikan Cadangan Beras Pemerintah Aman
fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan beras di tingkat rumah tangga dan pasar masih cukup kuat
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Yudi Sastro memastikan bahwa stok cadangan beras pemerintah dalam kondisi aman.
Ia menyebut kenaikan harga beras yang terjadi di pasar saat ini hanya berkisar antara Rp200 hingga Rp300 per kilogram.
Baca juga: Kementan: Indonesia Surplus Beras 4 Juta Ton, Swasembada Tetap Jadi Prioritas
“Sekarang ini memang begitu, cadangan beras pemerintah banyak, kemudian juga produksi cukup bagus. Ada kecenderungan peningkatan harga, tapi sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak masalah,” kata Yudi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga.
Namun, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat ini tidak sepadat awal tahun 2024.
“Pagi tadi perintah Pak Menteri juga demikian, ke pasar. Animo memang tidak seperti yang kita alami di Januari 2024. Kalau waktu itu memang kita kekurangan beras, di mana ada isu penyaluran, orang berbondong-bondong datang. Kalau sekarang memang di warung banyak, di rumah tangga juga banyak,” ujarnya.
Menurut Yudi, salah satu penyebab berkurangnya minat masyarakat terhadap beras SPHP adalah persepsi psikologis bahwa beras itu merupakan bantuan pemerintah.
Padahal, sebenarnya program itu berbentuk subsidi harga untuk stabilisasi pasar.
“Mindset orang dulu, ‘wah jangan SPHP’, padahal ini subsidi sebenarnya. Kalau tadi bisa yang merah putih, yakin orang ini beras kualitas bagus. Jadi ini mungkin juga perlu inovasi-inovasi seperti itu agar masyarakat lebih percaya bahwa ini beras bukan beras kasihan pemerintah,” jelasnya.
Baca juga: Harga Pangan Hari Ini, 16 Oktober 2025, Beras Premium dan Cabai Rawit Kompak Naik
Yudi juga mengungkapkan bahwa di beberapa daerah seperti Cianjur dan Sukabumi, penyaluran beras SPHP tidak terserap karena masyarakat tengah menikmati hasil panen lokal.
“Saya kebetulan waktu itu di Cianjur dan Sukabumi, saya tanya Kadis, tercapai target nggak hari ini? Katanya enggak, karena di sini lagi panen. Jadi ngapain lagi orang beli, mereka punya sendiri,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan beras di tingkat rumah tangga dan pasar masih cukup kuat, meskipun ada kenaikan harga di kisaran ratusan rupiah.
“Yang penting berasnya ada dan kualitasnya baik. Kenaikan Rp200 atau Rp300 itu sebagian besar masyarakat tidak masalah,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Produksi-Beras-Jan-Nov-2025-Diperkirakan-3319-Juta-Ton.jpg)