Minggu, 19 April 2026

Satu Tahun Prabowo–Gibran, Ekonomi Kreatif Jadi Katalis Pertumbuhan Baru

Satu tahun berjalan, sektor ekonomi kreatif menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Editor: Dodi Esvandi
Humas Kementerian Ekraf
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya bersama salah seorang pelaku ekonomi kreatif. Menurut data Kementerian Ekonomi Kreatif, hingga pertengahan 2025 nilai ekspor produk ekonomi kreatif telah mencapai 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp215 triliun — setara 50 persen dari target tahunan sebesar 26,44 miliar dolar. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Satu tahun berjalan, sektor ekonomi kreatif menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Di tengah transformasi digital dan meningkatnya partisipasi generasi muda, sektor ini mencatat lonjakan ekspor, investasi, dan penciptaan lapangan kerja yang melampaui target.

Menurut data Kementerian Ekonomi Kreatif, hingga pertengahan 2025 nilai ekspor produk ekonomi kreatif telah mencapai 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp215 triliun — setara 50 persen dari target tahunan sebesar 26,44 miliar dolar. 

Angka ini mencerminkan daya saing subsektor seperti aplikasi, fesyen, kuliner, dan kriya di pasar global.

Tak hanya ekspor, investasi di sektor ini juga tumbuh signifikan. Total investasi tercatat Rp90,12 triliun, menyumbang 9 persen dari realisasi investasi nasional. 

Lonjakan ini dinilai sebagai indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi industri kreatif Indonesia.

“Pertumbuhan ini bukan hanya soal angka, tapi soal dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.

Baca juga: OJK dan Kemenekraf Perkuat Ekosistem Digital di Sektor Ekonomi Kreatif

Salah satu dampak paling terasa adalah penciptaan lapangan kerja. 

Sepanjang 2024, sektor ekonomi kreatif menyerap 26,47 juta tenaga kerja — mayoritas berasal dari kalangan muda dan perempuan. 

Jumlah ini bahkan telah melampaui target tahun 2025 yang dipatok di angka 25,55 juta orang.

Peta sebaran pelaku ekonomi kreatif menunjukkan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat (24,29 persen), disusul DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Daerah-daerah ini menjadi pusat pengembangan ekosistem kreatif yang didorong oleh kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Kementerian Ekraf menyebut bahwa 8 kluster program utama atau Asta Ekraf menjadi fondasi penguatan inovasi dan jejaring global. 

Program ini mendorong subsektor seperti gim, musik, dan film — termasuk animasi — untuk menembus pasar internasional.

“Ekonomi kreatif tumbuh dari daerah, tapi dampaknya berskala nasional dan global,” kata Riefky.

Dengan kontribusi terhadap PDB yang tumbuh 5,69 persen pada 2024, sektor ini kini dipandang sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Pemerintah berharap tren positif ini terus berlanjut, seiring dengan rilis angka PDB nasional tahun 2025 yang dijadwalkan awal tahun depan.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved