Densus 88 Polri: 110 Anak Direkrut Kelompok Terorisme Lewat Platform Medsos hingga Gim Online
Densus 88 Antiteror Polri mencatat ada 110 anak-anak yang direkrut oleh jaringan terorisme melalui platform media sosial hingga gim online.
Ringkasan Berita:
- Densus 88 Antiteror Polri mencatat ada 110 anak-anak yang direkrut oleh jaringan terorisme melalui platform media sosial hingga gim online.
- Total ada lima tersangka perekrut anak-anak.
- Anak-anak tersebut dikategorikan sebagai korban rekrutmen.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat ada 110 anak-anak yang direkrut oleh jaringan terorisme melalui platform media sosial hingga gim online.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana membenarkan total ada lima tersangka perekrut anak-anak.
Dari hasil identifikasi anak-anak tersebut dikategorikan sebagai korban rekrutmen.
"Tahun ini 2025 kurang lebih 110 anak yang saat ini sedang teridentifikasi (direkrut kelompok terorisme, red)," ucapnya saat konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Densus 88 Sebut Aksi Pelaku Ledakan SMAN 72 Bukan Terorisme tapi Copycat
"Di sini kami bekerja sama dengan PPA, kemudian Kementerian Sosial, berbagai stakeholder yang ada, baik di pusat maupun di daerah," tambahnya.
Adapun daerah-daerah yang menjadi wilayah intervensi cakupannya luas mengingat kelompok terorisme memanfaatkan ruang digital.
Sehingga antar korban yang direkrut dengan perekrut juga tidak bertemu muka.
"Nah, di sini Densus 88 menyimpulkan bahwa ada tren yang tidak biasa dari tahun ke tahun di mana pada tahun 2011 hingga 2017 itu Densus 88 mengamankan kurang lebih 17 anak ya dan ini dilakukan berbagai tindakan, tidak hanya penegakan hukum tetapi juga ada proses pembinaan," ujarnya.
Densus 88 menyimpulkan ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring.
AKBP Mayndra juga berpesan kepada seluruh orang tua, pihak sekolah, dan seluruh elemen yang terlibat atau yang bertanggung jawab terhadap mindset daripada anak-anak.
Pentingnya selalu melakukan upaya kontrol, melakukan upaya deteksi, berawal dari rumah tangga untuk melakukan pencegahan.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan dalam setahun terakhir Densus 88 menangani tiga perkara utama yang menggunakan modus rekrutmen anak dan pelajar melalui ruang digital.
Penindakan terbaru dilakukan pada 17 November 2025 dengan penangkapan dua tersangka dewasa, masing-masing dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah, yang berperan sebagai perekrut dan pengendali komunikasi kelompok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/AKBP-Mayndra-Eka-Wardhana_3.jpg)