Banjir Bandang di Sumatera
Tangis Seorang Ayah Garuk Longsoran Tanah, Penuh Harap Temukan Putrinya yang Hilang
Banjir bandang dan tanah longsor melanda puluhan kabupaten di tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ringkasan Berita:
- Banjir bandang landa Puluhan kabupaten di tiga provinsi di Sumatera, termasuk Tapanuli Utara
- Laporan terbaru BNPB, korban tewas mencapai 744 jiwa
- Warga yang selamat sibuk mencari keluarganya yang hilang
TRIBUNNEWS.COM - SEORANG ayah, sebagian rambutnya tampak telah memutih. Beruban. Wajahnya tampak mengerut. Keriput.
Ia mengenakan kaus oblong warna merah pada lengan, dan biru garis putih di badan. Mengenakan celana bahan warna cokelat. Dia berdiri, namun posisi miring, dua tangan bertumpu ke tanah liat warna merah bata. Lengan lelaki tua itu, dari jari-jari hingga siku, berlumur lumpur tanah liat.
Dua kakinya terbenam di lumpur, demikian juga dua tangannya. Batang kayu tergelak antara kaki dan tangannya, di bawah perut.
Dia seperti bengong. Melamun. Kepalanya menunduk, sambil geleng-geleng meratapi tanah longsoran di lahan miring yang ada di hadapannya. Seorang lelaki lainnya menyapa menggunakan Bahasa Batak Toba.
Baca juga: Update Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, BNPB: 708 Orang Meninggal, 499 Masih Hilang
Rekaman video ini diunggah akun Instagram @HorasTapanuliUtara dengan tulisan judul watermark "Hati Siapa yang tidak hancur kehilangan borunya (putrinya)".
Tidak diperoleh informasi mengenai jati diri si ayah. Lokasi pun tidak disebut mendetail. Namun diduga berada di kawasan Tapanuli Raya, lokasi musibah-bencana longsor dan banjir yang terjadi pekan lalu.
“Tulang, ayo. Kita pergi tulang,” kata pria yang menyapa, sambil mengarahkan kamera video telepon selulernya ke arah si ayah. Tulang adalah panggilan untuk paman, saudara lelaki dari ibu.
Terdengarlah ratap si ayah. “Sudah tiga hari ini, ya Tuhan. Tuhan Jesus mati, tetapi pada hari ketiga hidup/bangkit lagi. Putriku, sudah tiga hari tidak tampak, tolonglah selamatkan mereka Tuhan,” kata si ayah menangis.
Terdengar pula, bujukan pria pembawa ponsel mengajak agar si lelaki tua bersabar, untuk tidak menangis lagi.
Si ayah terpaku. Kendati lengannya sudah digamit pria yang menghampiri, dia bergeming. Tidak berpindah sedikit pun juga.
Tangis dan doanya berlanjut.
“Lindungilah mereka. Dan lepaskahlah kami sekeluarga dari pencobaan. Saya yakin, Tuhan akan membebaskan mereka berdua. Supaya kami sekelaurga masih bisa bertemu orang lain.”
Bencana Ekologis karena Ulah Manusia
Dikutip dari Tribun-Medan.com, bencana tanah longsor dan banjir melanda wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, pada Senin (25/11/2025) pagi. Pimpinan tertinggi atau Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pendeta Victor Tinambunan menyatakan bencana di kawasan Tapanuli Raya bukanlah bencana alam biasa, melainkan bencana ekologis, musibah yang lahir akibat ulah manusia. Human error.
Tutupan hutan yang kian menipis telah meninggalkan tanah yang rapuh, sungai yang tak lagi terlindungi, dan ekosistem yang kehilangan keseimbangannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Cari-korban-hilang-1-02112025.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.