Jumat, 1 Mei 2026

Farida Farichah, Dari Aktivis Desa hingga Wakil Menteri Koperasi

Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah mengungkapkan rasa terkejutnya saat ditunjuk Presiden Prabowo Subianto untuk mengisi jabatan wakil menteri.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IMANUEL NICOLAS MANAFE
WAWANCARA KHUSUS - Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah diwawancarai secara khusus oleh Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Jakarta, Rabu (3/12/2025). Farida menjelaskan awal mula dirinya diminta Presiden Prabowo untuk menjadi Wakil Menteri Koperasi. Farida menjelaskan awal mula dirinya diminta Presiden Prabowo untuk menjadi Wakil Menteri Koperasi. Selain itu dia menjabarkan program pemerintah menghidupkan kembali di daerah, terutama desa-desa lewat Koperasi Desa Merah Putih. 
Ringkasan Berita:
  • Mengaku tidak pernah bermimpi akan menduduki jabatan Wakil Menteri
  • Sempat  merasa gamang dengan tugas barunya di Kementerian Koperasi
  • Wujud komitmen Presiden Prabowo memberikan ruang lebih besar kepada kaum muda, terutama perempuan dalam pemerintahan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah mengungkapkan rasa terkejutnya saat ditunjuk Presiden Prabowo Subianto untuk mengisi posisi strategis di Kabinet Merah Putih.

Perempuan yang mengawali kiprahnya dari desa dan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) ini mengaku tidak pernah bermimpi akan menduduki jabatan Wakil Menteri.

Hal itu diungkapkan Farida saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, beberapa waktu lalu.

“Sangat terkejut. Sebagai layaknya orang desa aktivis, tidak pernah bermimpi kira-kira begitu. Tidak pernah bermimpi kemudian menjadi seorang wakil menteri di usia yang cukup relatif muda,” ujarnya.

Farida juga, mengisahkan momen ketika dipanggil Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), pada September lalu untuk ditugaskan membantu Presiden Prabowo.

Baca juga: Transformasi Digital Perkuat Peran Koperasi Desa dalam Ekonomi Kerakyatan

Dia menyadari, dalam struktur partai politik seperti PKB di mana ia berkader sejak 2014, biasanya terdapat proses antrean kaderisasi yang matang.

Penunjukannya, ia anggap wujud komitmen Presiden Prabowo memberikan ruang lebih besar kepada kaum muda, terutama perempuan, dalam pemerintahan.

“Tetapi karena Bapak Presiden Prabowo itu memang punya komitmen memberikan ruang lebih ke anak muda untuk membantu beliau di Kabinetnya, terlebih lagi perempuan,” jelasnya.

Awalnya, Farida mengaku sempat merasa gamang dengan tugas barunya di Kementerian Koperasi.

Baca juga: Menkop Sebut Koperasi Bisa Menjadi Tempat Produksi dan Distribusi 

“Awalnya juga saya kaget, waduh. Kalau dibilang kesasar, mungkin bisa jadi kesasar,” katanya.

Namun, kekhawatiran itu berubah menjadi keyakinan setelah ia mendalami lebih jauh esensi dari dunia koperasi.

Dia menyadari bahwa koperasi bukan sekadar urusan ekonomi atau bisnis semata, tetapi juga menyangkut aspek kelembagaan dan kaderisasi.

Dua hal yang justru sangat ia kuasai berkat latar belakangnya di organisasi.

“Setelah masuk lebih dalam, ternyata saya kesasar di tempat yang tepat,” ujarnya lalu tersenyum.

Dia menjelaskan, pengalamannya lama mengelola organisasi di NU dan PKB memberinya bekal yang cukup dalam hal kelembagaan.

Sementara itu, nilai-nilai inti koperasi seperti gotong royong, sosial, dan kebersamaan sangat selaras dengan proses kaderisasi yang ia jalani.

“Berbicara koperasi itu tidak hanya ansih urusan ekonomi, tidak hanya ansih urusan bisnis, tetapi lebih ke satu, kaderisasi, yang kedua, kelembagaan,” papar Farida.

Farida juga menyoroti visi Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang kerap menekankan bahwa penguatan koperasi bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan.

Pendekatan ini ia rasa sangat cocok dengan semangat yang dibawanya dari dunia organisasi kemasyarakatan.

“Maka seringkali Menteri Koperasi, Pak Ferry itu selalu bilang, KDKMP ini bukanlah program, KDKMP ini adalah suatu gerakan. Kalau nggak berbicara gerakan, kita pernah lahir dan besar di NU, di PKB, kita sudah cukup bisa mengimbangi meskipun masuk di pertengahan, ya alhamdulillah cukup bisa terinternalisasi lebih dalam, lebih mudah,” tuturnya.

Dengan latar belakangnya yang kuat di akar rumput dan organisasi, Farida Farichah diharapkan dapat membawa angin segar dan pendekatan yang menyeluruh dalam penguatan koperasi di Indonesia, menggabungkan prinsip bisnis yang sehat dengan nilai-nilai sosial dan kebersamaan yang menjadi jiwa koperasi.

Berikut petikan wawancara bersama Wakil Menteri Koperasi RI, Farida Farichah:

Tanya: Mbak Wamen bisa cerita, Anda memahami begitu cepat ini kan perlu kecepatan. Dan saya melihat Anda bisa belajar cepat untuk urusan yang tidak sederhana, betul nggak? Kira-kira ini bukan urusan sederhana, bagaimana Mbak Wamen belajar cepat untuk memahami program ini atau gerakan ini?

Jawab: Lah, saya masuk itu, pembentukan 82 rubu itu sudah selesai. Saya masuk di etape 2. Rencana awal itu etape 2, etape 2 itu etape tahap operasionalisasi Kooperasi Desa Kelurahan Merah Putih. Namun setelah proses perjalannya waktu, kemudian ada perubahan skema, yang awalnya hanya pembiayaan, kemudian ada pembangunan fisik. Seiring itu juga kita, harus terjun langsung, beradaptasi, ketemu dengan banyak pihak.

Saya kira belajar itu tidak hanya harus lewat teks, tapi rapat, meeting, diskusi itu terus kita lakukan di 1,5 bulan pertama. Sehingga ditambah dengan belanja masalah, belanja masalah itu saya langsung turun ke Kopdes, baik yang dia baru terbentuk kelembagaannya tapi belum beroperasi, maupun yang sudah beroperasi sampai punya, seminggu itu bisa menghabiskan 5 ton beras.

Saya turun ke bawah, ke daerah-daerah. Ada yang dibilang sama Pak Wali Kota Madiun itu sidak, karena saya turun hanya bersama tim, yang dihubungi hanya dinas koperasinya, ke kooperasinya, kebetulan Pak Wali Kotanya ada disitu, langsung nyamperin, "Oh saya disidak, Pak/Bu Wamen, nih." Karena saya gak mau turun itu sudah dipersiapkan, sudah dipoles, sudah rapi, biar genuine, ya. Saya mau tahunya itu, kondisi faktualnya gimana sih, kira-kira begitu.

Tanya: Tahapan apa saja yang harus dilalui, maksudnya yang akan dilalui, supaya Koperasi Desa dan Kooperasi Kelurahan Merah Putih itu sampai pada objektifnya atau pada tujuannya? Itu tahapannya apa aja?

Jawab: Pertama, pembentukan badan hukum. Itu sudah selesai 10 Juli, semua 82 ribuan itu sudah selesai semua berbadan hukum. Terus yang kedua adalah tahap penyiapan bangunan fisiknya, yang hari ini sedang dilakukan, penyiapan bangunan fisiknya.

Tanya:  Penyiapan bangunan fisiknya?

Jawab: 6 gerai dan 1 gudang, beserta dengan kelengkapannya. Terus, seiring waktu fisiknya, bangunannya, tempat operasionalisasinya disiapkan, ini juga disiapkan juga nih, pembangunan SDM-nya.

Tanya: Fisiknya disiapkan, orangnya juga?

Jawab: Orangnya juga disiapkan, dalam bentuk apa? Pengurusnya sama pengawasnya dilakukan pelatihan-pelatihan oleh dinas koperasi, menggunakan dana dekon, dinas koperasi setempat.

Tanya: Dinas koperasi setempat, dengan kurikulum yang disediakan?

Jawab: Yang kita rumuskan dari kementerian, serta dengan dana dekon. Dana dekon itu dana pusat gitu, tapi teknisnya teman-teman yang ada di dinas kabupaten kota, ya. Kita siapkan juga pendampingnya.

Tanya: Disiapkan juga pendamping?

Jawab: Pendampingnya ini ada pendamping namanya PMO, apa itu? Project Management Officer, itu pendamping KDKMP yang kita tempatkan, kita tugaskan di dinas-dinas kooperasi kabupaten kota dan provinsi, masing-masing 2 orang.

Tanya: Siapa ini orang-orang ini? Ini yang merekrut kami?

Jawab: Dari kementerian koperasi.

Tanya: Oh, direkrut?

Jawab: Kalau PMO itu hanya membutuhkan 1.104, tapi yang mendaftar hampir 475 ribu. Jadi dibuka secara umum. Kita pakai pihak ketiga untuk menjaga profesionalitas. Jadi mereka-mereka ini orang masyarakat kebanyakan, mengikuti seleksi dengan syarat-syarat tertentu yang sudah ditentukan.

Tanya: Nah, bedanya PMO sama Business Assistant ini apa?

Jawab: Kalau PMO ini menguatkan dinas-dinas kooperasi. Dinas koperasi itu kan, kalau ada di kabupaten kota itu kan dia tidak hanya masih dinas koperasi. Ada yang jadi dinas koperasi perindustrian perdagangan.

Tanya: Masing-masing daerah ?

Jawab: Masing-masing daerah beda. Ada yang dinas koperasi pertamanan, bahkan ada yang dinas koperasi pemakaman. Kita mengutus, memfasilitasi adanya 2 orang khusus ini agar menguatkan, mendampingi, fokus untuk KDKMP ini, gitu kira-kira. Tambahan kekuatan lah kira-kira.

Tanya: Business Assistant ini 1 orang menangani 10?

Jawab: Betul, 10 koperasi.

Tanya: Nah, itu setelah tahapan itu kelar, apa lagi?

Jawab: Pendampingnya kita latih selama 7 hari, dan termasuk tugasnya dia apa saja dan lain sebagainya. Terus kemudian pengurusnya kita latih, sampai pengawasnya. Ada juga kita ada namanya program magang.

Tanya: Jadi para pengurus ini dimagangin?

Jawab: Dimagangin. Kita masih pilot project kalau magang. Kalau pelatihan yang untuk pendamping, untuk pengurus ini, semua masing-masing koperasi desa, pelatihan pengurusnya 2: ketua sama sekretaris. Untuk magang, kita masih pilot project di 514 koperasi.

Tanya: 514 koperasi existing ya?

Jawab: 514 koperasi desa, pengurus koperasi desa, kita magangkan di 6 tempat koperasi existing.

(Tribun Network/Yuda)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved