PBNU dan Dinamika Organisasinya
Siap Jadi Mediator Konflik PBNU, IKA PMII Dorong Muktamar Bersama
PB IKA PMII menilai eskalasi konflik yang melibatkan dua kubu di internal PBNU telah menimbulkan kegelisahan di kalangan Nahdliyin.
“Kami berharap seluruh elemen PBNU dapat menahan diri, tidak memperluas ketegangan, serta memberikan kesempatan bagi mekanisme organisasi untuk bekerja sebagaimana mestinya,” pungkasnya.
Kronologi Kisruh Internal PBNU
Konflik internal PBNU mencuat ke permukaan setelah keluarnya keputusan Rapat Harian Syuriyah 20 November yang merekomendasikan pemberhentian Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Gus Yahya menolak keputusan Syuriyah dan menegaskan tidak berniat mundur dari jabatannya.
Pada 25 November 2025, muncul lagi dokumen Surat Edaran dari Syuriah PBNU yang menyebut Gus Yahya sudah resmi tidak menjabat Ketum PBNU dan kepemimpinan PBNU sepenuhnya berada di tangan Rais Aam.
Kubu Gus Yahya menilai “Surat Edaran” tersebut tidak sah karena ttidak melalui mekanisme resmi PBNU serta tidak memiliki stempel digital terverifikasi.
Rais Syuriah PBNU surat edaran tersebut tidak bisa distempel lantaran ada upaya sabotase.
Tanggal 28 November 2025, Gus Yahya mengumumkan sejumlah rotasi di kepengurusan PBNU termasuk pemberhentian Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Sekretaris Jenderal PBNU.
Rais Aam PBNU menggelar rapat pleno di Hotel Sultan Jakarta kemarin dan menetapkan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU.
Rais Aam PBNU memutuskan Gus Yahya sudah tidak lagi menjabat posisi apapun di tubuh PBNU.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tkan-dua-kubu-di-internal-PBN-NahdliyinG.jpg)