Selasa, 14 April 2026

Limbah Sawit Disulap Jadi Bahan Cetak untuk Industri Manufaktur

Tim peneliti Politeknik Negeri Media Kreatif mengembangkan filamen 3D printing ramah lingkungan berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
RAMAH LINGKUNGAN -  Tim peneliti Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) yang dipimpin Dr. Handika Rahmayati, M.Si mengembangkan filamen 3D printing ramah lingkungan berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).  Filamen 3D adalah bahan baku utama berbentuk benang atau gulungan plastik termoplastik yang digunakan dalam printer 3D FDM (Fused Deposition Modeling) untuk membuat objek tiga dimensi dengan cara dilelehkan dan dicetak lapis demi lapis. 

Ringkasan Berita:
  • Tim peneliti Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) mengembangkan filamen 3D printing ramah lingkungan berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
  • Filamen biokomposit berbahan PLA dan serat TKKS ini dinilai berpotensi mendukung industri manufaktur berkelanjutan
  • Riset yang didukung BRIN dan BPDPKS tersebut masih diuji untuk memastikan kualitas sebelum masuk tahap produksi.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim peneliti Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) mengembangkan filamen 3D printing ramah lingkungan berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). 

Filamen 3D adalah bahan baku utama berbentuk benang atau gulungan plastik termoplastik yang digunakan dalam printer 3D FDM (Fused Deposition Modeling) untuk membuat objek tiga dimensi dengan cara dilelehkan dan dicetak lapis demi lapis.

Inovasi ini dinilai berpotensi mendukung industri manufaktur berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah perkebunan sawit.

Filamen tersebut dikembangkan melalui penelitian berjudul Formulasi Biokomposit Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Material Filamen 3D Printing yang diketuai oleh Dr. Handika Rahmayati, M.Si yang dilakukan bersama mitra dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Dalam riset ini, TKKS diolah menjadi selulosa dan dicampurkan dengan polylactic acid (PLA) untuk menghasilkan filamen biokomposit," kata Ketua peneliti, Handika Rahmayati dalam keterangan dikutip, Senin (15/12/2025).

Dikatakannya, proses pembuatannya meliputi pencampuran bahan, pengeringan, hingga ekstrusi menggunakan mesin ekstruder.

Filamen diproduksi pada suhu sekitar 135 derajat Celsius dengan parameter teknis yang disesuaikan dengan karakteristik material.

Ia mengatakan riset ini diharapkan menjadi solusi pemanfaatan limbah sawit agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi serta ramah lingkungan.

“Harapannya, hasil riset ini tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga dapat dikembangkan bersama industri,” ujar Handika.

Ditambahkannya, sejumlah pengujian telah dilakukan untuk menilai kualitas filamen, mulai dari karakterisasi fisik dan mekanik, uji morfologi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), hingga uji biodegradasi.

Hasil awal menunjukkan filamen biokomposit PLA–TKKS memiliki warna alami dan karakteristik mekanik yang dipengaruhi oleh komposisi serat TKKS.

Diseminasi hasil penelitian dilakukan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Industri Cetak Tiga Dimensi dan Diseminasi Hasil Grand Riset Sawit Tahun 2025 yang dihadiri oleh mitra industri dan sivitas akademika Polimedia.

Anggota tim peneliti dari BRIN, Dr. Novitri Hastuti, M.Hut., menilai pemanfaatan TKKS sebagai bahan filamen 3D printing membuka peluang baru bagi pengembangan industri berbasis material lokal.

"Inovasi ini tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada upaya pengurangan dampak lingkungan," katanya.

Dari sisi industri, PT Evolusi Kreasi Indonesia menyampaikan bahwa filamen 3D berbasis biokomposit memiliki potensi pasar seiring meningkatnya kebutuhan material ramah lingkungan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved