Jumat, 15 Mei 2026

Menteri Agama: Perbedaan yang Terus Ditonjolkan Bakal Ciptakan Ketegangan Sosial 

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting sebagai kerangka berpikir bangsa Indonesia. 

Tayang:
HO/IST
MENTERI AGAMA - Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan pidato kebudayaannya pada acara Refleksi 2025 dan Proyeksi 2026 di Jakarta, Senin (22/12/2025). (HO/Kemenag) 
Ringkasan Berita:
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kerangka berpikir bangsa Indonesia.
  • Ia menegaskan bahwa moderasi beragama digerakkan agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.
  • Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan doktrin kebudayaan yang lahir dari pengalaman panjang bangsa hidup dalam keberagaman.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sangat penting sebagai kerangka berpikir bangsa Indonesia. 

Moderasi beragama, kata Nasaruddin, digerakkan agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.

"Bhinneka Tunggal Ika itu bukan sekadar slogan pemersatu. Ia adalah doktrin kebudayaan yang lahir dari pengalaman panjang bangsa ini hidup dalam perbedaan. Tanpa pemahaman itu, perbedaan mudah sekali berubah menjadi konflik," ujar Nasaruddin saat memberikan pidato kebudayaannya pada acara Refleksi 2025 dan Proyeksi 2026 di Jakarta, Senin (22/12/2025).

Dirinya menjelaskan Indonesia sejak awal dibangun dari beragam suku, agama, dan tradisi yang saling bersinggungan. 

Meski begitu, ketika perbedaan hanya dilihat di permukaannya, ruang dialog menjadi sempit dan kecurigaan mudah tumbuh.

"Kalau perbedaan terus-menerus ditonjolkan tanpa kedalaman pemahaman, kita akan terus berada dalam ketegangan sosial. Ini berbahaya bagi masa depan kebangsaan. Karena itu, kebijaksanaan budaya menjadi sangat penting," kata Nasaruddin. 

Menurutnya, moderasi beragama menuntut kemampuan melihat substansi ajaran agama, bukan sekadar simbol dan identitas luar. 

Dirinya menilai banyak konflik muncul karena agama dipahami secara parsial dan terlepas dari nilai kemanusiaan.

"Kalau kita mau membuka diri dan menggali lebih dalam, nilai-nilai kemanusiaan dalam agama itu sangat dekat satu sama lain. Di situlah letak moderasi beragama. Moderasi bukan mengurangi iman, tetapi memperdalam pemahaman," katanya.

Nasaruddin juga menekankan bahwa Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi cara berpikir kolektif dalam mengelola keberagaman. 

Tanpa kerangka itu, masyarakat mudah terjebak pada sikap eksklusif dan merasa paling benar.

"Perbedaan adalah keniscayaan sejarah. Tetapi persatuan adalah pilihan sadar yang harus terus diperjuangkan. Di situlah fungsi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan beragama," ucapnya. 

Menag mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berani mengambil peran dalam merawat kebudayaan dan moderasi beragama. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved