PBNU dan Dinamika Organisasinya
Idrus Marham Sambut Islah PBNU: Muktamar Jalan Bermartabat Akhiri Konflik
Idrus Marham, menyambut positif kesepakatan islah, antara Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
“Para kiai telah memberi teladan. Mereka tidak haus panggung, tidak mencari menang-kalahan, tapi mencari kemaslahatan jam’iyyah. Ini teladan kepemimpinan ulama yang sejati,” ucap Idrus.
Muktamar sebagai Titik Balik NU
Sebagaimana diketahui, konflik di tubuh PBNU bermula dari pemberhentian Ketua Umum PBNU oleh Rais Aam melalui Rapat Syuriyah PBNU, yang kemudian ditolak pihak Ketua Umum dan memicu konflik berkepanjangan.
Musyawarah Kubro pada 1 Rajab 1447 H (21 Desember 2025) bahkan mengultimatum akan digelarnya Muktamar Luar Biasa apabila islah tidak tercapai.
Dalam konteks ini, kesepakatan islah menuju Muktamar Ke-35 NU dipandang sebagai titik balik penting.
Idrus menilai, dalam perspektif keilmuan Islam yang menjadi fondasi NU, AD/ART organisasi dapat diposisikan sebagai muhkamat, yakni prinsip-prinsip tegas dan jelas yang menjadi rujukan utama pengambilan keputusan.
Sementara konflik internal lebih tepat dipahami sebagai mutasyabbihat, wilayah abu-abu yang rawan menimbulkan syubhat dan kegaduhan.
Melalui Muktamar, NU menundukkan konflik di bawah otoritas konstitusi dan adab keulamaan, sekaligus memisahkan kepentingan personal dari prinsip kelembagaan.
Islah melalui Muktamar, menurut Idrus, adalah bentuk ijtihad konstitusional untuk memulihkan marwah ulama dan kepercayaan publik.
Idrus berharap forum tertinggi NU tersebut benar-benar menjadi momentum pemersatu.
“Muktamar ini bukan sekadar memilih pemimpin, tapi mengembalikan ruh NU: ukhuwah, keikhlasan, dan khidmat untuk umat dan bangsa,” tandasnya.
Islah PBNU di Lirboyo
Pertemuan antara Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar bersama jajaran Syuriah PBNU dan Mustasyar PBNU, termasuk Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menghasilkan kesepakatan bersama untuk mengakhiri konflik internal di tubuh PBNU. Pertemuan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (25/12/2025).
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar beserta jajaran Pengurus Syuriyah, di antaranya KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori, KH Idris Hamid, H. Muhammad Nuh, Gus Muhib, Gus Yazid, Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Gus Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, hingga Gus Nadzif.
Pertemuan yang menjadi upaya rekonsiliasi terhadap dinamika dan perbedaan pandangan yang sempat mencuat di internal PBNU selama ini tersebut, dihadiri sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama.
Hasil pertemuan tercapai islah atau perdamaian di antara pihak-pihak yang sebelumnya berselisih, dengan komitmen bersama untuk kembali mengedepankan persatuan organisasi.
Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Mu’id Shohib, menyampaikan pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh musyawarah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/idrus-marham-di-gedung-dpr.jpg)