Rabu, 22 April 2026

Kaleidoskop 2025

Tren 2025: Teroris Gaet Anak-anak di Game Online dan Medsos, Begini Cara Mereka Bekerja

Sepanjang tahun 2025 sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online.

|
Editor: Hasanudin Aco
Business Insider
Ilustrasi streamer game. Sepanjang tahun 2025, BNPT mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online atau permainan daring. 
Ringkasan Berita:
  • Sepanjang tahun 2025, Data BNPT mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online
  • Sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis
  • Ajak  orang tua untuk turut serta bisa merengkuh anak-anaknya dan meningkatkan literasi digital terhadap anak-anak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rabu 10 Desember 2025 lalu, seorang anak berinisial AL (12) menghabisi nyawa ibu kandungnya F (42).

AL tega menghubisi nyawa ibunya karena game online yang ada di telepon genggam dihapus.

Peristiwa itu terjadi di kediaman F di Medan Sumatera Utara.

AL mengambil pisau dapur lalu menusuk ibunya sampai 26 kali.

Baca berita selengkapnya :  Game Online Picu 2 Tragedi: Suami Aniaya Istri di Depok, Anak Bunuh Ibu Kandung di Medan

Pada 7 November 2025, seorang siswa SMAN 72 Jakarta meledakkan bom di sekolahnya melukai 97 orang.

Pelaku diduga terpapar ideologi ekstremismi di ruang digital.

Baca berita selengkapnya :  ABH Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Diperiksa Tiga Kali, Penyidik Dalami Motif Cara Merakit Bom

Bahaya Game Online

Sepanjang tahun 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar paham radikalisme dari media sosial dan game online atau permainan daring.

"Sepanjang tahun 2025, Densus 88 sudah menangkap beberapa jaringan terorisme maupun simpatisan asal Daulah yang berkembang kepada ISIS dan juga 112 anak yang teradikalisasi di sosial media maupun game online," kata  Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia Tahun 2025, Selasa (30/12/2025).

Paparan radikal di ruang digital kepada anak-anak ini dinilai berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan cara konvensional.

"Dibandingkan dulu, ketika proses radikalisasi secara konvensional itu membutuhkan waktu 2 sampai 5 tahun. Ya, sekarang dengan media online atau ruang digital, itu hanya butuh waktu 3 sampai 6 bulan,” ucapnya.

Bagaimana cara anak-anak terpapar radikalisme di media sosial?

Dari  media sosial  dimulai dari interaksi sederhana seperti likes (suka), share (membagikan konten), dan watch time (durasi tontonan).

Pola keterlibatan ini kemudian dibaca algoritma media sosial dan secara otomatis membentuk rekomendasi konten serupa sesuai dengan yang sering diakses pengguna.

 “Contohnya begini, ketika dia mengakses kejadian perang Suriah atau perang Irak. Terus, misalkan di YouTube, nanti semakin dia sering mengakses, ya, itu akan terpolakan akan terbentuk,” ucapnya.

Bagaimana cara anak-anak terpapar radikalisme di game online?

Pelaku menggunakan pola dalam psikologi dikenal sebagai digital grooming.

"Kalau di dalam game online karena game online itu ada fitur private chat, voice chat, saya meminjam istilah psikologis itu ada namanya digital grooming, tahap memastikan atau menanam kepercayaan, ketika sudah dapat grooming-nya, baru ditarik isolasi keluar, masuk ke dalam grup sosial media, baik itu Instagram maupun WA (WhatsApp)," ucapnya.

"Nah, di situlah baru dimainkan namanya normalisasi perilaku, artinya apa? Didoktrin tentang, karena ini dia kiblatnya ke ISIS, didoktrin tentang nilai-nilai ISIS," ujarnya.

Disebutkan, dalam proses radikalisasi terhadap anak, jaringan atau simpatisan memanfaatkan kerentanan psikologis remaja pada aspek emosi, perilaku, dan pola pikir.

Hal ini dibuktikan, mayoritas anak-anak yang terpapar mengalami trauma secara emosional, seperti perundungan (bullying) serta keluarga tidak utuh (broken home). 

Berawal dari keluarga broken home

Psikolog forensik yang juga Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Reni Kusumowardhani mengungkap, berdasarkan pemeriksaan psikologis, sebagian dari anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami kondisi broken home atau keluarga yang tidak harmonis.

Selain itu, sebagian anak-anak yang terpapar radikalisme mengalami broken heart atau patah hati.

"Jadi pada saat mereka sedang mulai naksir, patah hati, itu carinya juga narasi-narasi yang bisa membangun semangat mereka," ujar Reni dalam Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 yang digelar BNPT di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

"Nah, kerentanan ini mudah sekali untuk ditangkap oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," imbuhnya.

Kondisi psikologis lain yang juga mereka hadapi, kata Reni, adalah broken dream.

Broken dream yang Reni maksud, adalah mengalami kebingungan dengan situasi masyarakat saat ini.

"Menurut mereka, pernyataan mereka bingung dengan situasi masyarakat sekarang, situasi keadaan sekarang di mana informasi itu sekarang mereka sangat sulit ya untuk membedakan antara yang hoaks dengan yang informasi yang bisa dipercaya," ujarnya.

Reni mengatakan anak-anak memiliki ekologi perkembangannya sendiri.

Ekologi perkembangan yang paling kecil dan yang paling dekat dengan mereka, kata dia, adalah orang tua dan sekolah.

Sedangkan negara, BNPT maupun kementerian lainnya ada di ranah makrosistem. 

Makrosistem tersebut, kata dia, tidak bisa optimal apabila tidak ada peran serta dari pihak-pihak di mikrosistem. 

Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk turut serta bisa merengkuh anak-anaknya dan meningkatkan literasi digital terhadap anak-anak.

Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dari bahaya-bahaya yang mungkin muncul melalui dunia digital.

"Mereka harus punya kedekatan juga bagaimana membangun sebuah relasi emosional agar anak-anak ini berani menolak dan tahu," ucapnya.

"Waspada bahwa 'Oh, ini saya kok diajak seperti ini nih dalam bahaya', berani untuk menceritakan kepada orang tua. Nah, di sini tentunya peran orang tua sangat besar," ucapnya.

Alami Perundungan

Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkapkan kondisi lain yang dialami anak-anak yang rentan terpapar radikalisme di media sosial.

Kondisi tersebut, kata dia, adalah perundungan.

Anak-anak itu, ujarnya, mengalami trauma secara emosional.

"Mereka mengalami trauma secara emosional ya, ada dari bullying, juga dari broken home kan. Nah, dari sinilah mereka gampang terpapar," lanjutnya.

"Nah, ini yang terus kami jadi PR ke depan bahwa anak-anak ini tetap menjadi perhatian kami untuk dilakukan upaya rehabilitasi," pungkas dia.

Penulis: Gita/Hasan

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved