Rabu, 3 Juni 2026

Fenomena Wolf Moon 2026 Hiasi Langit di 3 Januari, Apakah Terlihat di Indonesia?

Wolf Moon Januari 2026 hadir sebagai supermoon. Simak waktu kemunculan, makna, dan peluang melihatnya di Indonesia.

Tayang:
www.nytimes.com
Fenomena Supermoon atau Bulan Purnama - Wolf Moon Januari 2026 hadir sebagai supermoon. Simak waktu kemunculan, makna, dan peluang melihatnya di Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM - Fenomena bulan purnama pertama di tahun 2026, yang dikenal dengan nama Wolf Moon, akan terjadi pada 3 Januari 2026. 

Bulan purnama ini diprediksi tampil lebih besar dan lebih terang dari biasanya karena bertepatan dengan posisi Bulan yang dekat dengan Bumi, atau dikenal sebagai supermoon.

Mengutip laporan Space.com, fase purnama penuh Wolf Moon terjadi pada pukul 5.03 pagi waktu Amerika Serikat bagian timur (EST) atau 10.03 GMT. 

Pada saat itu, Bulan berada tepat berseberangan dengan Matahari sehingga seluruh permukaan Bulan yang menghadap Bumi tampak sepenuhnya terang.

Space.com memang mencantumkan waktu puncak purnama di beberapa kota dunia, seperti New York, London, Tokyo, Beijing, dan Sydney. 

Namun hal ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah Wolf Moon juga bisa dilihat dari Indonesia?

Jawabannya, ya, Wolf Moon 2026 dapat disaksikan dari Indonesia.

Perlu dipahami, fase bulan purnama adalah peristiwa astronomi global, bukan fenomena yang hanya terjadi di negara tertentu. 

Waktu yang dicantumkan Space.com hanyalah contoh konversi zona waktu untuk menunjukkan satu momen yang sama di seluruh dunia.

Jika waktu puncak purnama 10.03 GMT dikonversi ke waktu Indonesia, maka jatuh pada:

  • sekitar 17.03 WIB
  • 18.03 WITA
  • 19.03 WIT

Baca juga: 13 Fenomena Bulan Paling Menarik Sepanjang 2026, dari Gerhana hingga Supermoon

Pada waktu tersebut, sebagian wilayah Indonesia memang masih berada pada waktu senja atau baru memasuki malam, sehingga Bulan belum sepenuhnya tinggi di langit. 

Namun secara visual, Bulan akan tetap tampak bulat penuh sepanjang malam 3 Januari 2026, karena fase purnama tidak hanya berlangsung dalam satu menit saja. 

Mata manusia juga tidak dapat membedakan perbedaan kecil antara purnama 100 persen dan hampir 100 persen.

Pada malam itu, Bulan akan terbit dari arah timur setelah Matahari terbenam. 

Sesuai penjelasan Space.com, Bulan kemungkinan tampak sedikit kekuningan sesaat setelah terbit akibat Rayleigh scattering, yaitu proses hamburan cahaya di atmosfer yang membuat warna merah dan kuning lebih dominan.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved