Deretan Teror Dialami Aktivis hingga Influencer, Cendekiawan Doktor Sukidi: Tanda Kekuasaan Otoriter
Doktor Sukidi: aksi teror terhadap aktivis hingga influencer adalah tanda kekuasaan otoriter yang dibangun di atas pondasi politik ketakutan
Ringkasan Berita:
- Pergantian tahun 2025 ke 2026, diwarnai sederet aksi teror yang menyasar aktivis, influencer, aktor, dan dosen; Iqbal Damanik, Virdian Aurellio, Sherly Annavita, DJ Donny, Yama Carlos, dan Zainal Arifin Mochtar.
- Deretan aksi teror ini pun dinilai cendekiawan Sukidi Mulyadi sebagai tanda kekuasaan otoriter yang dibangun di atas pondasi politik ketakutan.
- Aksi teror dimaksudkan untuk menebar ketakutan, tetapi kata Sukidi, harus dilawan; publik tidak boleh tunduk pada ketakutan itu sendiri.
TRIBUNNEWS.COM - Pemikir kebhinnekaan, Sukidi Mulyadi, memberikan tanggapan mengenai maraknya aksi teror yang menyasar aktivis, influencer (pemengaruh di media sosial), hingga aktor dan dosen belakangan ini.
Menurut peraih gelar Doktor dari Harvard University ini, hal tersebut adalah tanda kekuasaan otoriter (sistem pemerintahan yang berkuasa secara mutlak dan tidak memberi ruang bagi perbedaan pendapat).
Sebab, kekuasaan otoriter dibangun di atas pondasi politik ketakutan.
Nah, ketakutan bisa disebar melalui teror terhadap warga sipil, termasuk para aktivis atau influencer yang belakangan vokal mengkritik pemerintah, terutama terkait penanganan bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Secara harfiah, politik ketakutan atau politics of fear sendiri artinya strategi politik yang memanfaatkan emosi takut publik untuk memanipulasi opini, menggalang dukungan, atau mencapai tujuan kekuasaan dengan menciptakan rasa tidak aman, ancaman, atau bahaya.
Kekuasaan otoriter jelas berbeda 180 derajat dari demokrasi, yang dibangun atas kepercayaan atau trust masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Doktor Sukidi dalam podcast/siniar Bikin Terang yang diunggah di kanal YouTube Official iNews, Sabtu (3/1/2026).
"Itu sebagai tanda bahwa kekuasaan otoriter itu dibangun di atas pondasi the politics of fear, politik ketakutan. Karena demokrasi itu dibangun di atas pondasi trust, kepercayaan," kata Sukidi.
"Dalam demokrasi, kepercayaan itulah yang menandai satu mekanisme kehidupan yang demokratis."
"Tapi dalam otoritarianisme, ia ditegakkan di atas the politics of fear, politik ketakutan. Jadi ketakutan itu dicengkeramkan kepada masyarakat untuk mengirim pesan bahwa intimidasi, ketakutan, dan berbagai tindakan teror itu bisa membahayakan keselamatan mereka."
Meski demikian, Doktor Sukidi menegaskan, publik tidak boleh takut dengan adanya teror, mengutip pesan penting dari Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44, Barack Obama.
Baca juga: Bangkai Ayam, Bom Molotov, Hingga Teror COD: LPSK Siapkan Perlindungan Darurat
Sebab, jika muncul ketakutan, maka rezim yang menciptakan teror tersebut justru menang.
"Tetapi, seperti pesan Obama, kita tidak boleh tunduk pada ketakutan itu sendiri. Karena sekali tunduk pada ketakutan, maka yang peroleh kemenangan adalah rezim teror itu sendiri," ucap Sukidi.
Sukidi juga menegaskan, politik ketakutan yang identik dengan kekuasaan otoriter harus dilawan dengan politik keberanian untuk menyuarakan kebenaran.
Hal ini sejalan dengan pesan Wakil Presiden RI ke-1, Mohammad Hatta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Aktivis-Greenpeace-Iqbal-Damanik-diteror.jpg)