Libur Natal dan Tahun Baru 2026
Fatalitas Kecelakaan Turun, Kakorlantas Nilai Pembatasan Truk Sumbu Tiga dan WFA Efektif
Menurut Agus, kebijakan pembatasan kendaraan sumbu tiga yang dievaluasi sejak awal pelaksanaan Operasi Lilin memberikan dampak positif
Ringkasan Berita:
- Kebijakan pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga di jalan tol serta penerapan WFA dinilai efektif dalam menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas selama libur Nataru
- Menurut Agus, kebijakan pembatasan kendaraan sumbu tiga yang dievaluasi sejak awal pelaksanaan Operasi Lilin memberikan dampak positif, khususnya dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas
- Agus menyebut, WFA membuat pergerakan masyarakat menjadi lebih tersebar sehingga lonjakan arus dapat dikendalikan
TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Kebijakan pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga di jalan tol serta penerapan work from anywhere (WFA) dinilai efektif dalam menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
WFA adalah sistem kerja fleksibel yang memungkinkan karyawan bekerja dari lokasi mana saja—rumah, kafe, coworking space, bahkan luar negeri—selama pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Konsep ini muncul sebagai evolusi dari Work From Home (WFH) yang populer saat pandemi, namun memberi kebebasan lebih luas.
Baca juga: KAI Daop 1 Jakarta Amankan 462 Barang Penumpang Tertinggal Selama Libur Nataru
Hal tersebut disampaikan Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho kepada awak media di Pos Pengamanan Pelayanan Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Pospam Babakan Madang - Polres Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/1/2026).
Menurut Agus, kebijakan pembatasan kendaraan sumbu tiga yang dievaluasi sejak awal pelaksanaan Operasi Lilin memberikan dampak positif, khususnya dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas.
"Dengan tidak beroperasinya di jalan tol, tentunya peristiwa kecelakaan juga turun. Dari fatalitas korban meninggal dunia cukup menggembirakan, jadi kami bisa menurunkan dua digit, 27,12 persen,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, penurunan fatalitas tersebut setara dengan sekitar 150 jiwa yang berhasil diselamatkan dibandingkan periode Nataru tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah peristiwa kecelakaan secara keseluruhan juga tercatat menurun sekitar 7 persen.
Agus mengatakan, kebijakan pembatasan sumbu tiga tidak dilakukan secara kaku, melainkan melalui evaluasi lintas sektor bersama Kementerian Perhubungan.
Kendaraan sumbu tiga dilarang melintas di jalan tol, sementara di jalur arteri masih diberikan ruang operasional dengan pengaturan waktu tertentu.
"Sumbu tiga memang menjadi atensi kami semuanya, terutama Bapak Menhub, agar supaya satu hari setelah operasi berjalan itu kita evaluasi. Di jalan tol kamu tarik, dilarang masuk. Tetapi untuk di arteri masih ada waktu antara pukul 17.00 hingga pagi hari,” jelasnya.
Baca juga: Kakorlantas Polri Ungkap Angka Kecelakaan Selama Libur Natal dan Tahun Baru Berjumlah 3.183 Kejadian
Selain pembatasan kendaraan berat, kebijakan work from anywhere atau kerja jarak jauh, juga dinilai berkontribusi dalam mengurai kepadatan lalu lintas.
Agus menyebut, WFA membuat pergerakan masyarakat menjadi lebih tersebar sehingga lonjakan arus dapat dikendalikan.
"Work from anywhere ini kajiannya bagaimana kita bisa mengurai arus mudik dan arus balik. Ketika pergerakan terurai panjang, traffic counting di jalan itu lebih bisa dikendalikan,” kata Agus.
Lebih lanjut, Agus menegaskan, Operasi Natal dan Tahun Baru merupakan operasi kemanusiaan yang menempatkan keselamatan pengguna jalan sebagai prioritas utama.
"Yang paling terpenting adalah keselamatan dan kelancaran lalu lintas, baik keamanan harkamtibmas maupun kamseltibcarlantas,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fatalitasssss-kecelakaannn.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.