PBNU dan Dinamika Organisasinya
Singgung Nama Gus Salam, PWNU Papua Nilai PBNU Harus Kembali ke Nilai-nilai Para Pendiri
Sosok KH Abdussalam Shohib Bishri (Gus Salam) disebut merupakan figur yang paling layak memimpin PBNU menggantikan rezim saat ini.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua PWNU Papua, Rasyid T. Mayang, menilai satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah pergantian kepemimpinan.
Menurutnya, dari sejumlah tokoh dzurriyah muassis NU, sosok KH Abdussalam Shohib Bishri (Gus Salam) merupakan figur yang paling layak memimpin PBNU menggantikan rezim saat ini.
“Bagi saya, rezim PBNU saat ini harus segera diganti sebelum terlambat. NU perlu dikembalikan ke orientasi jam’iyyah, sesuai manhaj dan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri,” kata Rasyid kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).
Rasyid menekankan, kepemimpinan dzurriyah pendiri bukan berarti menjadikan NU sebagai organisasi dinasti.
Namun, langkah tersebut dinilai penting untuk mengembalikan ruh, keteladanan, dan orientasi keumatan NU, terutama memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.
Dia juga menyayangkan konflik internal PBNU yang melibatkan elite pimpinan, namun tak kunjung diselesaikan melalui mekanisme konstitusional yang telah disepakati para sesepuh NU, termasuk opsi Muktamar atau Muktamar Luar Biasa (MLB).
“Secara pribadi, saya memilih MLB. Konflik ini terlalu dalam dan sudah melahirkan mosi tidak percaya terhadap PBNU,” ujarnya.
Rasyid menyoroti perlakuan PBNU terhadap struktur NU di Papua. Menurutnya, PBNU cenderung terjebak pada urusan administratif, tanpa memahami kompleksitas dakwah NU di wilayah timur Indonesia yang sarat tantangan geografis, sosial, dan ideologis.
“Di Papua, dakwah NU sejalan dengan perjuangan menjaga NKRI dan Aswaja. Tapi kontribusi pegiat NU di daerah seolah diabaikan,” katanya.
Ia menilai para pemimpin PBNU saat ini telah kehilangan kharisma dan keteladanan sebagai pemimpin organisasi keagamaan, terlihat dari konflik terbuka dan saling serang secara verbal.
Sementara itu, Gus Salam dinilai memiliki kualitas pribadi, keilmuan, dan kematangan sosial yang kuat. Meski tidak mengenyam pendidikan formal perguruan tinggi, Gus Salam disebut memiliki kemampuan analisis yang tajam terhadap persoalan NU, pesantren, dan kebangsaan.
“Gus Salam dan Gus Dur adalah sepupu dari garis keturunan Mbah Bisri Syansuri, pendiri NU. Spirit perjuangan itu mengalir kuat dalam dirinya,” ujar Rasyid.
Dia juga mengungkap peran Gus Salam dalam upaya islah PBNU, termasuk melalui forum silaturahmi Ploso, Tebuireng, hingga Musyawarah Kubro di Lirboyo.
“Yang utama bagi Gus Salam adalah ishlahil jam’iyyah. Perbaikan NU harus dimulai dari kembalinya ke jalan utama, dengan ta’dhim kepada masyayikh dan sesepuh NU,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gus-salam-cucu-pendiri-nu.jpg)