Jumat, 15 Mei 2026

Mengapa PDIP Pilih Tanggapi Kalem Pernyataan Kaesang tentang Jateng Jadi Kandang Gajah?

PDIP memilih menanggapi santai pernyataan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang menargetkan Jateng jadi "kandang gajah" pada Pemilu 2029.

Tayang:
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda Prasetia
RAKERNAS PDIP 2026 - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto saat konferensi pers seusai penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Jakarta, Senin (12/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep ingin menjadikan Jateng sebagai kandang Gajah.
  • PDIP memilih menanggapi kalem pernyataan Kaesang.
  • Menurut pengamat politik Adi Prayitno, PDIP merasa saat ini bukan waktunya membicarakan politik elektoral, apalagi di tengah banyaknya bencana.

TRIBUNNEWS.COM – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep sudah menyatakan target besar partainya pada Pemilu 2029, yakni menjadikan Jawa Tengah (Jateng) sebagai “kandang gajah”. Gajah yang dimaksudnya ialah gajah logo PSI.

“Jawa Tengah ini kandang gajah. PSI hadir untuk masyarakat Jawa Tengah. Tolong bantu kami bekerja dan bergerak bersama menuju Pemilu 2029,” kata Kesang dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus pelantikan pengurus baru DPW dan DPD PSI se-Jawa Tengah di Hotel Sunan Solo, Kota Solo, Jateng, Kamis, (8/1/2026).

Adapun hingga kini Jateng dikenal sebagai “kandang banteng” karena Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bisa dikatakan sangat kuat di sana. Pernyataan Kaesang itu pun direspons secara kalem oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

“Pemilu masih panjang. Rakyat yang menentukan. Rakyat yang punya kedaulatan,” kata Hasto dalam Rakernas PDIP di Ancol, Jakarta, Sabtu, (10/1/2026), ketika ditanya oleh awak media.

“PDI Perjuangan melalui peringatan HUT ke-53 ini melakukan autokritik, memperbaiki ke dalam, mempertajam praksis ideologi dan kemudian seperti penanganan bencana, setidak-tidaknya PDI Perjuangan bergerak maksimum demi kemanusiaan tanpa mempertimbang aspek-aspek mereka memilih siapa.”

Sementara itu, Ketua DPP PDIP sekaligus mantan capres 2024, Ganjar Pranowo, memilih bungkam ketika dimintai tanggapannya atas pernyataan Kaesang. Dia hanya tersenyum.

Mengapa PDIP menanggapinya secara kalem?

Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sjarif Hidayatullah Jakarta, buka suara mengenai tanggapan PDIP, terutama Hasto, atas pernyataan Kaesang.

Adi mengatakan publik sebenarnya berharap PDIP akan memberikan tanggapan yang keras atas pernyataan Kaesang. Namun, partai berlogo banteng itu ternyata hanya memberikan tanggapan normatif. Adi lalu mencoba menduga alasan di balik tanggapan normatif PDIP.

“Sepertinya Hasto ingin memberikan pesan bahwa di tengah bencana, situasi banjir dan longsor, tentu tidak produktif kalau bicara tentang politik elektoral dan waktunya masih cukup lama, empat tahun lagi,” kata Adi

“Saat ini yang difokuskan itu adalah semua partai politik berfokus bagaimana ikut berkontribusi terkait dengan upaya recovery yang ada di Sumatra."

Baca juga: Ambisi Ketum PSI Kaesang yang Ingin Jateng Jadi Kandang Gajah Hanya Dibalas Senyum Ganjar Pranowo

PDIP tak takut hadapi psywar Kaesang

Adi Prayitno mengatakan pernyataan Kaesang tentang target PSI itu banyak dianggap sebagai psywar atau perang psikologis.

Kaesang dinilai telah melancarkan perang terbuka melawan PDIP yang kuat di Jateng. Meski demikian, Adi merasa PDIP tidak gentar menghadapi psywar Kaesang.

“Ketika Kaesang menyampaikan secara terbuka [bahwa] di 2029 Jawa Tengah harus menjadi kandangnya PSI, itu sebenarnya kalimat lainnya adalah dengan adanya [mantan Presiden RI] Jokowi, PSI siap bertempur dengan siapa pun, khususnya dengan PDIP yang dulu menjadi bagian dari Pak Jokowi,” kata Adi di kanal YouTube miliknya, Senin, (12/1/2025).

Menurut dia, PSI bisa merasa cukup percaya diri melawan PDIP di Jateng adalah karena faktor ayah Kaesang, yakni Jokowi.

“Yang membuat PDIP kuat di Jawa Tengah itu, kalau menurut pendukung Pak Jokowi, ya karena ada faktor Jokowi. Jokowilah yang membuat basis-basis pemilih dan basis-basis loyal itu semakin kuat dan solid,” kata dia.

Di sisi lain, menurut Adi, PDIP akan berargumen bahwa partai itu sudah lama kuat di Jateng, bahkan tanpa kehadiran Jokowi.

Adi mengatakan dalam Pilgub Jateng 2024, PDIP memang kalah. Meski demikian, partai berlogo banteng itu sangat kuat di Jateng dalam Pileg 2024. Buktinya, PDIP berhasil menang di 19 kabupaten/kota.

(Tribunnews/Febri)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved