Sabtu, 25 April 2026

Rupiah Tembus Rp17 Ribu Per Dolar AS, Menkeu Purbaya dan Gubernur BI Bertemu Mensesneg

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung Kementerian Sekretariat Negara.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com/Taufik Ismail
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung Kementerian Sekretariat Negara, pada Rabu pagi, (21/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Pertemuan Menkeu–Mensesneg Bahas Sinkronisasi Kebijakan.
  • Fokus Jaga Stabilitas Rupiah.
  • Penguatan Konsolidasi Tanpa Arahan Khusus.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Gedung Kementerian Sekretariat Negara, pada Rabu pagi, (21/1/2026).

Pertemuan sekaligus sarapan tersebut digelar dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB.

Purbaya mengatakan dalam pertemuan tersebut turut hadir Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan anggota DPR.

"Bahas macam-macam, biasa diskusi. Tadi kan ada Gubernur BI kan," katanya usai pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai sinkronisasi kebijakan, termasuk langkah langkah dalam menjaga nilai tukar Rupiah

Untuk diketahui nilai tukar Rupiah terhadap dolar sekarang ini mencapai Rp17 ribu. 

"Kita lakukan sinkronisasi kebijakan, saya akan membenahi fiskal dan perekonomian pak Gubernur BI akan memastikan mengambil langkah yang perlu untuk menjaga nilai tukar," katanya.

Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut mengatakan bahwa masalah nilai tukar rupiah merupakan tugas Gubernur BI.

Ia meyakini bahwa Gubernur Bank Indonesia akan mengambil langkah yang tepat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS.

"Saya pikir dia akan mengendalikan hal itu dengan baik. nggak ada masalah lagi," katanya.

Purbaya mengatakan bahwa tidak ada arahan khusus dari Mensesneg terkait dengan nilai tukar rupiah.

Mensesneg hanya meminta agar konsolidasi terus dilakukan antara Menteri Keuangan dan Gubenur BI.

"Engak ada (arahan khusus), yang penting konsolidasi juga supaya kita sering ketemu juga, supaya lebih erat," pungkasnya.

Kondisi Terkini Rupiah

  • Posisi terakhir: Rp16.963 per dolar AS.
  • Pelemahan harian: turun 7 poin atau 0,04 persen.
  • Prediksi ke depan: HSBC Global Research memproyeksikan rupiah bisa menembus Rp17.000/US$ pada akhir 2026 jika arus modal asing tetap lemah.

Faktor Penyebab Pelemahan

  • Arus modal asing melemah meski neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.
  • Penguatan dolar AS global akibat kebijakan moneter ketat Federal Reserve.
  • Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global yang mendorong investor mencari aset aman.
  • Ketergantungan impor pada sejumlah sektor strategis (pangan, obat-obatan, energi, elektronik) membuat tekanan terhadap rupiah semakin terasa.

Dampak terhadap Ekonomi Nasional

  • Harga barang impor naik: pangan tertentu, obat-obatan, alat kesehatan, elektronik, BBM, dan LPG.
  • Inflasi berpotensi meningkat karena biaya produksi dan distribusi ikut terdorong.
  • Daya beli masyarakat tertekan terutama kelompok menengah ke bawah.
  • Perusahaan berbasis impor menghadapi lonjakan biaya bahan baku.
  • Utang luar negeri pemerintah dan swasta dalam denominasi dolar menjadi lebih berat.

Respons Pemerintah dan Otoritas

  • Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah.
  • Kementerian Keuangan menyiapkan langkah fiskal untuk meredam dampak inflasi, termasuk subsidi energi.
  • Presiden Prabowo Subianto meminta kementerian terkait memperkuat diplomasi ekonomi dan mempercepat diversifikasi mitra dagang agar ketergantungan pada impor berkurang.
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved