Nilai Tukar Rupiah
Nilai Tukar Rupiah Hampir Tembus Rp17.000, Apa Dampak Pelemahan Ini ke Masyarakat?
Berikut ini dampak pelemahan nilai tukar rupiah pada masyarakat? nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.000.
Efeknya menyebar luas ke berbagai aspek ekonomi dan akhirnya memengaruhi kehidupan kamu sehari-hari. Adapau dampak dari rupiah melemah sebagai berikut:
- Kenaikan Harga Barang Impor
Barang impor, mulai dari elektronik, obat-obatan, hingga bahan baku industri, menjadi lebih mahal. Kenaikan ini langsung meningkat seiring depresiasi rupiah, sehingga harga jual di pasar ikut naik.
- Lonjakan Biaya Produksi di Dalam Negeri
Perusahaan yang menggunakan mesin, suku cadang, atau bahan baku impor harus menanggung biaya lebih besar. Biaya tambahan ini kemudian diteruskan ke konsumen dalam bentuk peningkatan harga.
- Tekanan Inflasi yang Semakin Kuat
Ekspektasi pelaku usaha terhadap potensi kenaikan harga mempercepat inflasi. Harga-harga barang kebutuhan meningkat, dan daya beli kamu ikut menurun.
- Penurunan Daya Beli Masyarakat
Pendapatan nominal mungkin tetap sama, tetapi nilai riilnya berkurang. Kamu kehilangan sebagian kemampuan membeli barang dan jasa yang sebelumnya bisa dijangkau dengan jumlah uang yang sama.
- Perubahan Pola Konsumsi
Masyarakat mulai berhemat, beralih ke produk yang lebih murah, atau menunda pembelian besar. Perilaku ini berpengaruh pada perputaran ekonomi, terutama sektor ritel.
Perry Warjiyo: Pengaruh Kombinasi Faktor Global dan Domestik
Sementara itu Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari meningkatnya ketidakpastian global serta sejumlah dinamika di dalam negeri.
Dari sisi global, Perry menjelaskan pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif AS, serta tingginya imbal hasil (yield) US Treasury baik untuk tenor 2 tahun maupun 3 tahun.
Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memicu aliran modal keluar dari negara berkembang menuju negara maju, termasuk Amerika Serikat.
“Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Seperti tadi kami sampaikan, pada tahun 2026 ini terjadi net outflow sebesar 1,6 miliar dolar AS berdasarkan data hingga 19 Januari 2026,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/2026).
Sementara dari sisi domestik, Perry menyebut meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) dari sejumlah korporasi besar seperti Pertamina, PLN, hingga Danantara turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Soal Pencalonan Deputi Gubernur BI Berpengaruh?
Selain itu, proses pencalonan Deputi Gubernur BI juga dinilai memengaruhi persepsi pasar.
Meski demikian, Perry menegaskan proses pencalonan Deputi Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan undang-undang dan prinsip tata kelola yang baik, serta tidak mengganggu pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia.
“Juga persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/rupiah-ditutup-lesu-ke-level-rp-16260_20240419_195922.jpg)