Kamis, 23 April 2026

Pengamat Nilai PSI Gaet Kader Partai Lain Copy Paste Pola Surya Paloh

Pengamat menilai perpindahan kader ke PSI mengingatkan pada strategi Partai NasDem di awal kemunculannya.

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Dewi Agustina
Tribunnews.com/istimewa
PERPINDAHAN KADER PARPOL- Banyaknya kader partai politik (parpol) yang berpindah haluan ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menimbulkan tanda tanya di ruang publik.  Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga menilai perpindahan kader tersebut mengingatkan pada strategi Partai NasDem di awal kemunculannya. 
Ringkasan Berita:
  • Banyaknya kader parpol yang berpindah haluan ke Partai Solidaritas Indonesia menimbulkan tanda tanya di ruang publik.
  • Fenomena ini dinilai tidak lazim mengingat PSI selama ini masih dikategorikan sebagai partai kecil.
  • Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai perpindahan kader tersebut mengingatkan pada strategi Partai NasDem di awal kemunculannya.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyaknya kader partai politik (parpol) yang berpindah haluan ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menimbulkan tanda tanya di ruang publik. 

Fenomena ini dinilai tidak lazim mengingat PSI selama ini masih dikategorikan sebagai partai kecil.

Baca juga: PSI Siapkan Panggung Khusus untuk Jokowi di Rakernas Makassar Sulawesi Selatan, Prabowo Tak Diundang

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai perpindahan kader tersebut mengingatkan pada strategi Partai NasDem di awal kemunculannya.

"Pertanyaan itu wajar karena ada kader partai dari partai relatif besar mau pindah ke partai gurem. Perpindahan kader seperti ini mengingatkan kasus NasDem di awal ikut Pileg," kata Jamiluddin, kepada Tribunnews, Selasa (27/1/2026).

Jamiluddin menjelaskan, pada masa awal mengikuti pemilu, NasDem dinilai kerap “membajak” kader dari partai lain yang dianggap memiliki elektabilitas dan potensi terpilih sebagai anggota legislatif.

 

 

"Saat itu NasDem terkesan membajak kader partai lain untuk dijadikan caleg. Kader yang dibajak itu dinilai potensial untuk terpilih menjadi anggota legislatif," ucapnya.

Menurut Jamiluddin, pola serupa kini terlihat dilakukan PSI dalam rangka persiapan menghadapi Pemilu Legislatif (Pileg) 2029.

"Pola seperti itu yang saat ini terkesan digunakan PSI untuk mempersiapkan Pileg. PSI mencoba mendekati kader partai lain untuk dipersiapkan menjadi caleg PSI pada Pileg 2029," katanya.

Ia menilai strategi tersebut tidak lepas dari peran Ahmad Ali yang kini menjabat sebagai Ketua Harian DPP PSI

Ahmad Ali diketahui sebelumnya merupakan Wakil Ketua Umum Partai NasDem.

"Pola itu kiranya yang diadopsi Ahmad Ali. Ia melakukan copy paste apa yang dilakukan Surya Paloh dalam membesarkan NasDem, terutama dalam menggapai jalan singkat masuk Senayan," ucapnya.

Lebih lanjut, Jamiluddin menduga, kader NasDem yang kini merapat ke PSI merupakan bagian dari loyalis Ahmad Ali yang telah lama dibinanya saat masih berada di NasDem.

"Khusus kader NasDem yang berlabuh ke PSI, tampaknya itu adalah gerbongnya Ahmad Ali. Selama menjadi Waketum NasDem, Ahmad Ali berhasil membina kader menjadi loyalisnya," kata Jamiluddin.

Menurutnya, kelompok tersebut mayoritas berasal dari wilayah Indonesia Timur dan berpotensi terus bergerak ke PSI secara bertahap.

"Kelompok ini banyak yang berasal dari Timur. Karena itu, bisa jadi gerbong Ali satu per satu akan berlabuh ke PSI," katanya.

Adapun motif perpindahan kader ke PSI, lanjut Jamiluddin, dinilai beragam. Mulai dari faktor stagnasi karier politik hingga kegagalan pada Pileg 2024.

"Ada kader yang merasa kariernya di partai lain sudah suram sehingga mencari peruntungan ke PSI. Mereka bisa saja gagal menjadi anggota legislatif pada Pileg 2024," ujarnya.

Selain itu, ia juga tidak menutup kemungkinan adanya motif perlindungan hukum.

"Tak menutup kemungkinan mereka pindah ke PSI untuk mendapat perlindungan hukum. Bisa jadi di antara yang pindah itu menganggap PSI dapat melindunginya secara hukum," ucapnya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama perpindahan kader tersebut adalah mencari peluang politik yang dinilai lebih menjanjikan.

"Motif mereka pindah ke PSI tampaknya beragam. Namun bisa jadi mereka ingin mendapat peruntungan yang lebih baik di PSI dibandingkan partai sebelumnya," pungkasnya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved