Minggu, 31 Mei 2026

Siswa SD di NTT Meninggal

Buntut Kasus Bocah SD di NTT Akhiri Hidup Imbas Tak Punya Buku & Pena, DPR Akan Panggil Mendikdasmen

Lalu Hadrian menyebut DPR akan memanggil Mendikdasmen Abdul Mu'ti, buntut kasus bocah SD di NTT yang diduga memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nuryanti

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT.

Peristiwa tersebut dinilai sebagai kejadian serius yang menjadi keprihatinan bersama dan pengingat pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap kesejahteraan anak.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyampaikan empati kepada keluarga korban serta seluruh pihak yang terdampak, termasuk teman, guru, dan warga sekolah.

"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah satu murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT. Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama, dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak," ujar Atip dalam keterangan resmi, Rabu (4/2/2026).

Menurut Atip, kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks dan tidak dapat dipandang secara sederhana.

Baca juga: Soal Kematian Siswa di NTT, Anggota DPR: Tidak Boleh Terulang, Seolah-olah Negara Tidak Hadir

Kondisi emosional anak dipengaruhi berbagai faktor yang saling terkait.

Sehingga, membutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.

"Peristiwa ini kami pandang sangat serius. Kesejahteraan psikososial anak dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga memerlukan dukungan yang berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara," katanya.

Atip menjelaskan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) dan dana bantuan telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku.

Meski begitu, dirinya menegaskan bahwa perlindungan anak tidak boleh berhenti pada bantuan finansial semata.

"Pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya dari keluarga rentan, tidak cukup hanya melalui dukungan finansial. Pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif juga menjadi hal yang sangat penting," ujar Atip.

Baca juga: Tragedi Anak SD di NTT, Buku Rp10 Ribu Tak Terbeli, Kris Tjantra: Negara Gagal Hadir

Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan perangkat terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga korban.

Pemerintah juga menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya serta memastikan akses terhadap layanan sosial dan pendidikan.

Lebih lanjut, Atip menyebut peristiwa ini sebagai pengingat pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak.

"Satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka agar setiap anak merasa aman mengekspresikan kerentanannya, didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai," tuturnya.

Baca juga: 3 Anggota DPR Akui Tertampar Kasus Siswi di NTT Akhiri Hidup, Gegara Tak Bisa Beli Pena dan Buku

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup

ANAK SD AKHIRI HIDUP - Penyidik Polres Ngada olah TKP temuan jasad siswa SD di pohon cengkeh, Ngada, NTT, Kamis (29/01/2026). Sepucuk surat terakhir korban untuk ibunda, di TKP, menyentuh hati warga dan membuka luka pendidikan.
ANAK SD AKHIRI HIDUP - Penyidik Polres Ngada olah TKP temuan jasad siswa SD di pohon cengkeh, Ngada, NTT, Kamis (29/01/2026). Sepucuk surat terakhir korban untuk ibunda, di TKP, menyentuh hati warga dan membuka luka pendidikan. (TribunFlores.com)
Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved