Rabu, 20 Mei 2026

Siswa SD di NTT Meninggal

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Ketua DPD Terpukul: Pastikan Seluruh Anak Tersentuh Program Pemerintah

Sultan Baktiar Najamudin menilai, tragedi kematian siswa SD di Ngada NTT merupakan bentuk kelalaian bersama seluruh elemen bangsa.

Tayang:
Penulis: Fersianus Waku
Editor: Dewi Agustina

Ringkasan Berita:
  • Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin menilai, tragedi kematian siswa SD di Ngada NTT merupakan bentuk kelalaian bersama seluruh elemen bangsa.
  • Sultan mengambil hikmah dari peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat dukungan terhadap program-program pemerintah.
  • Sultan mendorong pemerintah pusat untuk memprioritaskan daerah tertinggal dalam merealisasikan program-program bantuan tersebut.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin mengaku sangat terpukul atas meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku tulis serta pulpen. 

Sultan menilai, tragedi kemanusiaan ini merupakan bentuk kelalaian bersama seluruh elemen bangsa, bukan hanya kesalahan individu semata.

Baca juga: Beda Reaksi Bupati Ngada dan Gubernur Terkait Kematian Murid SD di NTT, Melki Laka Lena Merasa Malu

"Sebagai bangsa kita patut berduka dan prihatin dengan peristiwa yang tragis ini. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga, agar lebih serius memberikan perhatian pada pertumbuhan dan perkembangan mental serta pemenuhan sarana dan fasilitas pendidikan anak-anak di manapun berada," kata Sultan kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).

Sultan mengatakan, tugas menumbuhkembangkan anak Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru semata, namun merupakan tugas kemanusiaan yang sifatnya kolektif. 

"Terutama bagi masyarakat setempat, juga tentunya pemerintah desa sebagai pelaksana pemerintahan di tingkat paling bawah," ujarnya.

 

PERLINDUNGAN SOSIAL - Petugas Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Efata Kupang menyerahkan santunan dan bantuan senilai total Rp9 juta kepada keluarga siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, sebagai bentuk dukungan perlindungan sosial, Rabu (4/2/2026).
PERLINDUNGAN SOSIAL - Petugas Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Sentra Efata Kupang menyerahkan santunan dan bantuan senilai total Rp9 juta kepada keluarga siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, sebagai bentuk dukungan perlindungan sosial, Rabu (4/2/2026). (Dok. Kemensos)

 

Sultan mengambil hikmah dari peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat dukungan terhadap program-program pemerintah yang menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Ia menyinggung pentingnya realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga beasiswa pendidikan agar tepat sasaran.

"Sebagai hikmahnya, mari kita dukung bersama program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas SDM anak Indonesia, baik program MBG, Sekolah Rakyat, serta beasiswa pendidikan bagi siswa sekolah fasar dan menengah," tegas Sultan.

Sultan mendorong pemerintah pusat untuk memprioritaskan daerah tertinggal dalam merealisasikan program-program bantuan tersebut agar tidak ada lagi anak yang merasa putus asa karena biaya pendidikan.

"Pastikan tidak satu pun anak Indonesia yang tidak tersentuh program-program pemerintah yang penting ini. Agar peristiwa serupa tidak terjadi kembali di masa depan," imbuhnya.

Pesan Menyentuh Peninggalan YBR

Adapun YBS ditemukan meninggal pada Kamis (29/1/2026) karena diduga kuat mengakhiri hidup, di sebuah pohon cengkih yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya bersama sang nenek, Welumina Nenu.

Tepatnya di kawasan Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved