Komunitas Tionghoa Gabung Demokrat, AHY: Politik Identitas Bisa Pecah Belah Bangsa
AHY ingatkan bahaya politik identitas saat terima komunitas Tionghoa bergabung ke Demokrat, sebut ancaman serius bagi persatuan bangsa.
Ringkasan Berita:
- AHY tegaskan politik identitas ancam persatuan bangsa
- Komunitas Tionghoa resmi bergabung sebagai kader Demokrat
- Merry Riana sebut masuk politik sebagai lembaran hidup baru
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan partainya menolak politik identitas di hadapan komunitas Tionghoa yang baru bergabung sebagai kader.
Pernyataan itu disampaikan AHY saat penyerahan kartu tanda anggota (KTA) kepada motivator Merry Riana dan sejumlah anggota komunitas Tionghoa di Kantor DPP Demokrat, Jakarta, Senin (9/2/2026).
“Demokrat selalu menolak keras dan kita katakan jangan gunakan identitas untuk memecah belah bangsa sendiri. Dua hal itu yang juga terus kita perangi,” jelas AHY.
Ia menegaskan, politik identitas adalah praktik mengeksploitasi perbedaan di tengah masyarakat majemuk.
Menurutnya, Indonesia adalah negara plural dengan keberagaman suku, agama, dan ras.
“Perbedaan adalah sesuatu karunia, tapi sekaligus menyimpan kerentanan,” kata AHY. Ia juga mengingatkan bahaya disinformasi, misinformasi, hingga politik kebohongan yang dapat merusak demokrasi.
AHY menyebut bergabungnya komunitas Tionghoa ke Demokrat menjadi simbol inklusivitas partai.
“Bergabungnya para sahabat Bapak-Ibu sekalian bersama Partai Demokrat merupakan sesuatu yang sungguh kami syukuri,” tandasnya.
Baca juga: 3 Manuver Bonatua Usai Terima Salinan Ijazah Jokowi Tanpa Sensor, Langkah Pamungkas Bikin Penasaran
Merry Riana: Dari Dunia Motivasi ke Panggung Politik Demokrat
Motivator dan pengusaha Merry Riana resmi bergabung sebagai kader Demokrat. Ia mengaku sempat merasa “deg-degan” saat menerima KTA dari AHY.
“Hari ini saya deg-degan banget karena seperti memulai lembaran baru, hidup baru, seperti hari pernikahan,” ujarnya.
Merry menegaskan keputusan masuk politik tidak diambil secara instan.
“Ada jenis perubahan yang sesungguhnya niat baik saja tidak cukup. Dia membutuhkan sistem, kebijakan, dan orang-orang yang berani mengeksekusi,” katanya.
Ia juga menyinggung latar belakang dirinya sebagai perempuan, non-Muslim, dan keturunan Tionghoa.
“Saya datang dengan identitas triple minority. Pertama saya perempuan. Kedua saya non-Muslim, saya Katolik. Dan yang ketiga saya juga keturunan Tionghoa. Tapi justru di sinilah saya diterima,” jelasnya.
Merry menyebut KTA yang diterimanya bukan sekadar kartu identitas, melainkan simbol komitmen. “Bagi saya ini adalah sebuah komitmen. Komitmen Tiada Akhir. KTA,” pungkasnya.
Momentum bergabungnya komunitas Tionghoa dan Merry Riana ke Demokrat menjadi pengingat bahwa demokrasi hanya bisa bertahan jika perbedaan dijaga sebagai kekuatan, bukan dijadikan senjata politik.