Profil Boy Thohir, Pengusaha yang Hadiri Pertemuan Prabowo dengan Konglomerat Nasional
Berikut profil Boy Thohir, Wakil Presiden Komisaris PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (AlamTri/ADRO) yang hadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo.
Selain itu, ia juga merupakan kakak kandung Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir.
Boy Thohir menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) di University of Southern California, Amerika Serikat, pada 1988, lalu melanjutkan studi dan memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis dari Northrop University di Amerika Serikat.
Karir
Sepulangnya dari Amerika, ia memulai karir bisnisnya dengan bergabung ke Astra, yang saat itu dipimpin oleh sang ayah.
Setelah merasa pengalamannya di Astra sudah cukup, Boy kemudian mencoba mendirikan perusahaan di bidang properti, salah satunya melalui pembangunan apartemen di kawasan Casablanca, Jakarta.
Namun, usahanya tersebut tidak berjalan dengan mulus. Selain itu, ia juga terkendala pembebasan lahan.
Lalu, ia menjual perusahaan tersebut kepada ayahnya.
Pada 1992, ia bergabung ke PT Allied Indo Coal, sebuah perusahaan tambang di Sawah Lunto, Sumatera Barat.
Suami dari Alinda Thohir itu kemudian merintis usahanya di bidang keuangan dengan mengakusisi perusahaan multi finansial PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM Finance) pada tahun 1997. Perusahaan tersebut bergerak di bidang layanan pembiayaan kepada masyarakat, khususnya untuk pembelian sepeda motor Honda.
Pada 2005, Boy bersama Theodore Permadi Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Soebianto membentuk sebuah konsorsium untuk mengakuisisi saham Adaro Energy dari perusahaan asal Australia, New Hope.
Langkah tersebut menjadi titik balik dalam perjalanan bisnisnya.
Ia kemudian berhasil membawa Adaro Energy menjadi perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia setelah PT Kaltim Prima Coal, sekaligus menempatkannya sebagai salah satu produsen batu bara terbesar kelima di dunia.
Tiga tahun kemudian, Adaro Energy melakukan penjualan saham perdana ke publik (initial public offering/IPO) hingga berhasil membuat Adaro sebagai satu dari 50 Perusahaan Terbaik di Asia versi Forbes.
Selain Adaro Energy, Boy Thohir juga terlibat dalam berbagai sektor bisnis lainnya, termasuk perbankan dan media.
Pada 30 Mei 2013, Ayah tiga anak itu juga memborong saham perusahaan yang dipimpinnya sendiri untuk memperkuat investasinya.
Pada tahun berikutnya, PT. Adaro Power bekerja sama dengan anak usaha Korea East-West Power Co. Ltd. untuk membentuk PT Tanjung Power Indonesia, perusahaan penyedia pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 X 100 megawatt (MW) di Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel).