Senin, 8 Juni 2026

Disorot Akademisi China, Perusahaan Jamu ini Disebut Layak Jadi Rujukan Global

Industri jamu Indonesia disorot akademisi China dan dinilai layak jadi rujukan global berbasis riset.

Tayang:
Editor: BizzInsight
Tribunnews/Fransisca Andeska/Fransisca Andeska
INDUSTRI JAMU NASIONAL - The 5th International Conference on Traditional Medicine bertajuk “Wellness Approaches in Manage Metabolic Disorder” digelar di Poltekkes Kemenkes Surakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam forum yang menghadirkan akademisi, pemerintah, dan pelaku industri ini, Sido Muncul mendapat sorotan sebagai contoh industri jamu berbasis standarisasi dan riset yang dinilai layak menjadi rujukan global. (Dok. Tribunnews/Fransisca Andeska) 
Ringkasan Berita:
  • Akademisi dari China menilai industri jamu Indonesia, khususnya Sido Muncul, layak menjadi rujukan global berbasis riset dan standarisasi.
  • Irwan Hidayat menegaskan modernisasi jamu harus ditopang uji ilmiah, konsistensi produk, serta kolaborasi dengan dunia kedokteran.
  • Pemerintah dan asosiasi industri mendorong penguatan regulasi, hilirisasi riset, dan peningkatan kualitas agar jamu mampu bersaing di pasar global.

 

TRIBUNNEWS.COM - Industri jamu dan obat bahan alam Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan global berbasis riset dan standarisasi. Sorotan tersebut mengemuka dalam The 5th International Conference on Traditional Medicine bertajuk Wellness Approaches in Manage Metabolic Disorder di Poltekkes Kemenkes Surakarta, Rabu (11/2/2026).

Dalam forum yang menghadirkan unsur akademisi, pemerintah, dan pelaku industri tersebut, PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) mendapat sorotan dan pengakuan internasional.  

Direktur Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, menilai pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak perlu merasa kalah dalam industri herbal global. 

“Kita harus percaya diri. Kekayaan alam kita luar biasa. Tinggal bagaimana diolah dengan sungguh-sungguh dan dibuktikan secara ilmiah,” jelas Irwan Hidayat

Irwan Hidayat mencontohkan pernyataan Profesor Joseph Jie Yu dari University of Nottingham Ningbo China yang menyebut industri herbal tradisional China perlu belajar dari sistem produksi Sido Muncul setelah melihat langsung sistem produksinya.  

Irwan juga menegaskan modernisasi jamu harus bertumpu pada standarisasi dan pembuktian ilmiah. Setiap produk harus konsisten antar-batch dan melalui uji keamanan, termasuk uji toksisitas dan uji khasiat. 

“Tolak Angin sudah melalui uji keamanan dan khasiat. Saya berhati-hati membuat produk dan berusaha membuktikan secara ilmiah bahwa produk yang saya buat tidak melukai siapa pun,” ujarnya. 

Irwan juga mendorong kolaborasi dengan dunia kedokteran. Menurutnya, dokter bukan pesaing industri jamu, melainkan mitra strategis dalam sistem kesehatan. 

“Dokter mendiagnosa penyakit. Industri menawarkan solusi. Sama seperti farmasi, yang penting ada data, ada standarisasi, dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. 

Konsep kolaborasi ini sejalan dengan pendekatan triple helix yang disampaikan pemerintah, yaitu sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah untuk mendorong hilirisasi riset dan menciptakan ekosistem inovasi obat bahan alam yang berkelanjutan. 

Ketua Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta, Dr. Apt. Indri Kusuma Dewi, M.Sc, menambahkan bahwa pengembangan jamu kini berbasis scientific evidence. Mahasiswa tidak hanya belajar meracik secara empiris, tetapi juga memahami senyawa aktif, target reseptor, hingga uji klinis. 

“Jamu harus naik kelas. Tidak cukup hanya turun-temurun. Harus ada pembuktian ilmiah agar bisa masuk dalam sistem pelayanan kesehatan,” ujar Indri. 

Dengan dukungan regulasi, potensi sumber daya alam, komitmen asosiasi industri, serta modernisasi perusahaan seperti Sido Muncul, jamu Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisi di pasar global. 

Tantangannya kini bukan lagi soal potensi, tetapi konsistensi dalam standarisasi, riset, dan keberanian berinvestasi jangka panjang.

Baca juga: Jaga Marwah Jamu Aman Nasional, Perusahaan Jamu Ini Raih Penghargaan BPOM Award

Ekosistem dan Regulasi Obat Bahan Alam 

Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Dr. Jeffri Ardiyanto, M.App.Sc, menegaskan, pemerintah mendorong kemandirian obat bahan alam melalui berbagai regulasi, termasuk UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024. 

Dalam Pasal 321 UU Kesehatan, ekosistem bahan alam nasional mencakup jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, serta obat bahan alam inovasi. Dr. Jeffri menambahkan, pemerintah juga mendorong peningkatan penggunaan obat bahan alam di fasilitas pelayanan kesehatan melalui formularium fitofarmaka serta integrasi produk dalam e-katalog pengadaan. 

“Kemandirian bahan baku obat menjadi bagian dari strategi ketahanan farmasi nasional. Saat ini sekitar 90 persen bahan baku obat bahan alam diproduksi di dalam negeri, sisanya masih impor namun diproses di dalam negeri,” jelas Dr. Jeffri. 

Tantangan Industri Jamu Nasional 

Meski demikian, tantangan industri tidak ringan. Standarisasi dan kontinuitas bahan baku menjadi isu utama. Tanpa kepastian pasar, petani mudah beralih ke komoditas lain. Selain itu, biaya riset, uji praklinik, uji klinik, serta pemenuhan CPOTB untuk naik kelas menjadi fitofarmaka membutuhkan investasi besar. 

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), Stefanus Handoyo Saputro, menilai industri jamu saat ini berada di persimpangan antara tradisi dan tuntutan global. 

“Kita punya kekuatan di bahan baku dan sejarah panjang penggunaan jamu. Tapi kalau tidak serius di standardisasi, riset, dan tata kelola produksi, sulit bersaing di pasar global,” ujar Stefanus. 

Menurut Stefanus, pelaku usaha jamu kini dituntut untuk meningkatkan kualitas dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya tanaman obat, konsistensi ekstraksi, hingga transparansi klaim manfaat produk. 

Ia menekankan bahwa kolaborasi industri dengan akademisi dan pemerintah menjadi kunci agar jamu bisa naik kelas menjadi produk berbasis bukti ilmiah. 

Baca juga: Gelar Operasi Katarak Gratis, Perusahaan Jamu Ini Bantu Ratusan Warga Bandung ‘Kembali Melihat’

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved