Kamis, 4 Juni 2026

Ramadan 2026

Awal Puasa Ramadan 2026 Muhammadiyah dan Pemerintah Berpotensi Beda, Menag Harap Tak Ada Konflik

Meski berbeda, Menag mengatakan tak ada permasalahan karena Indonesia sudah sangat berpengalaman hidup rukun dalam sebuah perbedaan.

Tayang:
Penulis: Rifqah
Editor: Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
  • Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal
  • Sementara pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) berpotensi memulai pada Kamis (19/2/2026), sembari menunggu Sidang Isbat pada hari ini, Selasa (17/2/2026)
  • Meski berbeda, Nasaruddin mengatakan tak ada permasalahan karena Indonesia sudah sangat berpengalaman hidup rukun dalam sebuah perbedaan

 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, berharap potensi perbedaan awal puasa Ramadan 1447 H pada 2026 ini tidak menimbulkan konflik.

Adapun, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal. 

Hisab hakiki wujudul hilal adalah metode penetapan awal bulan Hijriah yang digunakan Muhammadiyah berdasarkan perhitungan astronomis (hisab hakiki) untuk memastikan bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam (wujudul hilal).

Sementara pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) berpotensi memulai pada Kamis (19/2/2026), sembari menunggu Sidang Isbat pada hari ini, Selasa (17/2/2026). 

Adapun, Sidang Isbat yang digelar oleh Pemerintah ini menjadi momen penting dalam penentuan 1 Ramadan 1447 H, karena hasilnya akan menentukan kapan umat Islam di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa.

Meski berbeda, Nasaruddin mengatakan tak ada permasalahan karena Indonesia sudah sangat berpengalaman hidup rukun dalam sebuah perbedaan.

Sehingga, dia berharap perbedaan awal puasa Ramadan 2026 ini tidak akan menimbulkan konflik.

"Bukan kali ini, tapi beberapa tahun yang lalu juga Muhammadiyah puasa duluan, lebaran duluan, dan non Muhammadiyah menyusul satu hari berikutnya. Tapi tetap rukun, enggak ada masalah," katanya, Selasa, dikutip dari YouTube tvOne.

"Karena ini sebetulnya masalah furu'iyah bisa disebut seperti itu ya. Jadi jangan sampai nanti masalah furu'iyah bukan masalah ushuliyyah yang menyebabkan kita berkonflik satu sama lain," sambungnya.

Menurut Nasaruddin, tidak ada untungnya jika masyarakat berkonflik hanya karena perbedaan awal puasa Ramadan 2026 ini.

"Mari kita terima kenyataan bahwa memang kondisi objektif Indonesia terakhir ini tidak lagi seperti dulu-dulu kala, NU-Muhammadiyah kompak, apa kata pemerintah itu yang diikuti. Tapi, sekarang ada pembaharuan pandangan ya." 

Baca juga: Besok Kemenag Gelar Sidang Isbat, Romo Syafii Harap Awal Puasa Ramadan Bisa Serempak

"Muhammadiyah konsisten untuk mempertahankan metodologi hisabnya sebagai informasi dan rukyahnya sebagai konfirmasi. Sedangkan yang lainnya masih tetap seperti dulu ya, rukyah penentu dan hisab itu adalah konfirmasi," jelas Nasaruddin.

Nasaruddin pun menjelaskan, sejak kepemimpinan Presiden RI pertama yakni Soekarno hingga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebenarnya semua sepakat mengikuti ketentuan pemerintah terkait awal puasa Ramadan.

Namun, seiring berkembangnya zaman, ternyata sidang isbat sudah tidak lagi menjadi satu-satunya pedoman dalam menentukan awal puasa Ramadan.

"Karena ada saudara-saudara kita dari ormas Islam tertentu menetapkan duluan Ramadannya dan lebarannya, bahkan jauh-jauh hari sebelum sedang isbat itu," ucapnya,"

Meski Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah, Nasaruddin menekankan bahwa hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan.

"Saudara kita di Muhammadiyah itu tidak bisa disesalkan karena mereka berkeyakinan bahwa hilal itu, melihat hilal dalam arti rukyah itu hanya konfirmasi, sedangkan informasinya adalah hisab. Jadi yang menentukan adalah perhitungan hisabnya."

"Rukyah penting bagi saudara-saudara kita Muhammadiyah, tapi itu hanya konfirmasi. Berbeda dengan ormas yang lain, termasuk NU di dalamnya, rukyah itu menjadi informasi sedangkan hisabnya itu adalah konfirmasi."

Nasaruddin mengatakan, keduanya sebenarnya sama-sama menggunakan metode hisab dan rukyah, hanya saja penempatan rukyah itu berbeda. 

Jam Berapa Sidang Isbat Hari Ini?

Kementerian Agama (Kemenag) diketahui akan menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah pada hari ini, Selasa (17/2/2026) yang akan dilaksanakan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Berdasarkan agenda yang dirilis Kemenag, rangkaian kegiatan dimulai pukul 16.30 WIB dengan Seminar Posisi Hilal yang akan membahas data hisab dan hasil pemantauan hilal sebagai dasar pertimbangan dalam penetapan awal Ramadan.

Selanjutnya, pada pukul 18.30 WIB akan dilaksanakan Sidang Isbat yang bersifat tertutup untuk umum.

Dalam sidang ini, Kemenag bersama para ulama, perwakilan organisasi masyarakat Islam, ahli astronomi, serta instansi terkait akan membahas hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia dan mengkaji data hisab yang telah dihimpun.

Hasil dari Sidang Isbat tersebut kemudian akan diumumkan kepada publik melalui konferensi pers yang dijadwalkan pada pukul 19.05 WIB.

Konferensi pers penetapan 1 Ramadan 1447 H ini dapat disaksikan secara langsung melalui kanal YouTube Kemenag RI, Bimas Islam TV, TikTok, dan Instagram Bimas Islam.

Melalui mekanisme ini, pemerintah memastikan penetapan awal puasa Ramadan 2026 dilakukan secara transparan dan berdasarkan pertimbangan ilmiah serta syar’i.

(Tribunnews.com/Rifqah)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved