Jumat, 15 Mei 2026

Trump Terapkan Tarif Timbal Balik

Hubungan Baik Prabowo dan Donald Trump Berpotensi Ubah Kebijakan Tarif AS, Ini Harapan Pemerintah RI

Mensesneg Prasetyo Hadi nilai hubungan baik Prabowo dan Donald Trump berpotensi ubah tarif AS bagi Indonesia menjadi lebih rendah.

Tayang:
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Adi Suhendi
HO/IST/HO/IST/BPMI Setpres/Muchlis Jr
BERDAMPINGAN - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump berdampingan dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Mensesneg Prasetyo Hadi nilai hubungan baik Prabowo dan Donald Trump berpotensi ubah tarif AS bagi Indonesia menjadi lebih rendah. 
Ringkasan Berita:
  • Hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut menjadi modal kuat bagi Indonesia dalam meja negosiasi ekonomi
  • Kedekatan Prabowo dan trump berpotensi membawa perubahan kebijakan tarif dagang yang lebih menguntungkan bagi Indonesia
  • Prasetyo mengisyaratkan adanya peluang negosiasi agar tarif dagang bisa ditekan lebih rendah dari kesepakatan awal

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hubungan personal yang erat antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut menjadi modal kuat bagi Indonesia dalam meja negosiasi ekonomi. 

Hal itu diungkapkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.

Ia menyebut kedekatan kedua pemimpin tersebut berpotensi membawa perubahan kebijakan tarif dagang yang lebih menguntungkan bagi tanah air.

Ia mengatakan agenda penandatanganan kerja sama tarif dagang dijadwalkan berlangsung di Washington DC pada 19 Februari 2026 atau tepat setelah pertemuan Board of Peace (BoP).

"Kita serahkan kepada dua pemimpin khusus komunikasinya. Tidak menutup kemungkinan karena hubungan baik kedua pemimpin ini mungkin ada perubahan kebijakan, kita enggak tahu," ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Imbas Tarif Trump, Rencana Belanja Besar-besaran Pemerintah RI ke AS Diawasi KPK

Meskipun draf kesepakatan saat ini belum menunjukkan perubahan signifikan, pemerintah menaruh harapan besar pada pertemuan tatap muka Prabowo dan Trump. 

Prasetyo mengisyaratkan adanya peluang negosiasi agar tarif dagang bisa ditekan lebih rendah dari kesepakatan awal.

"Harapan kita kan tentu pengen seperti itu ya (lebih rendah), siapa tahu. Mari kita semua berharap barangkali nanti di dalam pertemuan antara Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump ada perubahan yang itu bermanfaat bagi bangsa dan negara kita," lanjutnya.

Dalam upaya negosiasi tersebut, Indonesia dikabarkan mengincar angka yang kompetitif agar setara dengan negara-negara mitra AS lainnya.

Baca juga: Tarif Trump Membuat Eksportir Makanan dan Minuman Beralih ke Tiongkok dan Asia

Prasetyo memberikan sinyal bahwa pemerintah ingin mengejar penurunan tarif hingga ke level 18 persen.

"Mungkin kita hanya melihat negara-negara lain, kalau ada yang bisa turun 18 (persen), ya mungkin kita pengen turun ke 18. Tapi kan artinya bukan kita yang menentukan hal tersebut, tapi bagian dari upaya untuk bernegosiasi terus kita lakukan," tegasnya.

Prasetyo menambahkan, meski Indonesia telah menawarkan sejumlah poin kesepakatan sebagai bahan pertimbangan bagi AS, keputusan akhir akan sangat bergantung pada komunikasi tingkat tinggi antara kedua presiden tersebut.

"Apa pun yang disepakati nanti, semangatnya adalah untuk kepentingan nasional," pungkasnya.

Indonesia telah menyepakati tarif resiprokal dengan AS sebesar 19 persen.

Kesepakatan ini disertai sejumlah konsesi non-tarif, termasuk kewajiban pembelian produk energi dan pertanian dari AS, serta pelonggaran aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved