Sudah Swasembada, Kenapa Indonesia Masih Impor Beras dari AS?
Salah satu alasan utama mengapa impor ini dinilai aman bagi petani lokal adalah volumenya yang sangat terbatas.
Ringkasan Berita:
- Di tengah klaim keberhasilan swasembada pangan nasional, rencana pemerintah untuk tetap mengimpor beras dari Amerika Serikat (AS) memicu tanda tanya di masyarakat
- Tim Pakar Badan Komunikasi Pemerintah, Fitra Faisal Hastiadi, memberikan penjelasan terkait alasan di balik komitmen dagang tersebut
- Ia menegaskan bahwa komitmen pembelian sejumlah komoditas dari Amerika Serikat, termasuk jagung dan beras, didasarkan pada perhitungan matang agar tidak mengganggu stabilitas produksi dalam negeri
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah klaim keberhasilan swasembada pangan nasional, rencana pemerintah untuk tetap mengimpor beras dari Amerika Serikat (AS) memicu tanda tanya di masyarakat.
Tim Pakar Badan Komunikasi Pemerintah, Fitra Faisal Hastiadi, memberikan penjelasan terkait alasan di balik komitmen dagang tersebut.
Baca juga: Genjot Swasembada Pangan Lewat Pembentukan Komunitas Petani Perempuan
Ia menegaskan bahwa komitmen pembelian sejumlah komoditas dari Amerika Serikat, termasuk jagung dan beras, didasarkan pada perhitungan matang agar tidak mengganggu stabilitas produksi dalam negeri.
"Secara umum apa yang dibeli dari US itu sebenarnya adalah produk-produk yang tidak bersinggungan langsung dengan produk-produk di dalam negeri. Itu secara umum ya, meskipun ada beberapa irisan-irisannya," ujar Fitra Faisal di Gedung Kwarnas, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Salah satu alasan utama mengapa impor ini dinilai aman bagi petani lokal adalah volumenya yang sangat terbatas.
Fitra menjelaskan bahwa Amerika Serikat sendiri bukan merupakan produsen beras skala besar, sehingga potensi gangguan terhadap kapasitas nasional relatif minim.
"Misalnya beras, itu sangat limited karena mereka juga bukan produsen beras yang besar. Jadi tidak mengganggu secara umum kapasitas nasional," tambahnya.
Ia memastikan bahwa kedaulatan ekonomi nasional tetap menjadi prioritas utama. Fitra menyebutkan adanya mekanisme escape clause atau klausul penyelamat dalam kerja sama internasional tersebut.
Klausul ini memungkinkan pemerintah untuk melakukan negosiasi ulang atau pembatalan jika di kemudian hari ditemukan dampak negatif yang mengganggu kepentingan ekonomi lokal maupun nasional.
Baca juga: Prabowo Klaim RI Swasembada Pangan, Mengapa Masih Impor 1.000 Ton Beras & 580.000 Ekor Ayam dari AS?
"Kalau dianggap ini kemudian mengganggu kepentingan ekonomi lokal, ya kan kita bisa bernegosiasi lagi. Selalu ada escape clause-nya asalkan ini tidak melanggar national interest," tegasnya.
Rencana impor ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Tariff (ART) atau perjanjian tarif timbal balik antara Indonesia dan Amerika Serikat yang baru saja disepakati.
Dalam perjanjian ini, Indonesia mendapatkan tarif 0 persen untuk 1.819 produk ekspor ke AS, sementara Indonesia berkomitmen membuka pasar bagi sejumlah produk agrikultur Amerika.
Namun, Indonesia saat ini tengah berada dalam fase penguatan swasembada pangan. Apalagi, Presiden Prabowo Subianto baru saja mengumumkan produksi beras nasional sudah swasembada. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Capt-persen-Amerika-Serikat-d-warnas.jpg)