Iran Vs Amerika Memanas
Nasir Tamara: Serangan AS-Israel vs Iran Sama Sekali Tidak Mengagetkan
Pengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara, serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan hal yang mengagetkan
Ringkasan Berita:
- Serangan AS-Israel ke Iran telah memicu ketegangan di wilayah Timur Tengah.
- Meski begitu, Pengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara, serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran bukan hal yang mengagetkan.
- Nasir Tamara merupakan wartawan senior Indonesia jurnalis yang pernah satu pesawat dengan Ayatollah Khomeini dari Prancis ke Teheran.
TRIBUNNEWS.COM - Wartawan senior sekaligus Pengamat Politik Timur Tengah, Nasir Tamara, menyampaikan tanggapannya terkait serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Serangan AS-Israel ke Iran yang dilakukan pada Sabtu (28/2/2026) itu, telah memicu ketegangan di wilayah Timur Tengah.
Dalam serangan tersebut, sejumlah petinggi militer Iran meninggal dunia, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Sedikitnya, 787 orang tewas akibat rangkaian serangan AS-Israel hingga Selasa (3/3/2026), menurut Bulan Sabit Merah.
Namun, Nasir Tamara berpendapat, serangan AS-Israel pada Sabtu pagi di Iran itu, bukan hal yang mengagetkan bila menilik cerita sejarahnya.
Hal itu, disampaikan Nasir Tamara, tamatan Universitas kenamaan Prancis, Sorbone, dalam tayangan Program Overview Tribunnews, Selasa.
Nasira Tamara adalah satu-satunya jurnalis Indonesia yang pernah satu pesawat dengan Ayatollah Khomeini dari Prancis ke Iran pada tahun 1979.
"Sama sekali tidak mengagetkan, karena sejak Republik Islam Iran didirikan tahun '79, setelah kemenangan revolusi Iran di bawah Imam Khomeini."
"Salah satu tujuan dari Republik adalah membantu Palestina dan menghancurkan Israel sebagai sebuah negara," jelas Nasir Tamara.
Oleh sebab itu, Israel dinilai sangat membenci Iran sejak lama.
"Jadi kita harus ingat bahwa ini satu-satunya negara yang membuat suatu keputusan seperti itu. Jadi tentunya selama 47 tahun revolusi, Israel itu sangat membenci Iran gitu kan," ungkapnya lagi.
Baca juga: Nasir Tamara: Iran Masih Punya Moral dalam Berperang, Beda dengan Trump dan Netanyahu
Sekarang, lanjut Nasir Tamara, keadaannya sudah sangat menguntungkan bagi Israel untuk menyerang Iran.
Apalagi ada faktor kedekatan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump yang terpilih untuk kedua kalinya.
Lantas, Nasir Tamara menceritakan kisah masa lalu terkait hubungan Palestina, Iran, AS, dan Israel.
"Pada masa lampau itu, telah ada perdamaian antara Palestina di bawah PLO (Palestine Liberation Organization) dengan Israel dalam persetujuan yang disebut Persetujuan Oslo. Dan itu adalah persetujuan dua negara," ungkapnya.
Di mana satu negara merdeka bernama Israel dan satu negara merdeka namanya Palestina.
Namun, ada seorang politik muda waktu itu yang bernama Netanyahu menjadi oposisi terhadap Jenderal Yitzhak Rabin (Jenderal/Perdana Menteri Israel kala itu) dan Shimon Peres (Negarawan/Menteri Luar Negeri Israel kala itu) yang mendukung menginisiasi perdamaian itu.
Hal itu, memunculkan permasalahan hingga Israel menyimpan dendam terhadap sosok Yitzhak Rabin dari negara sendiri.
"Sehingga Yitzhak Rabin dibunuh oleh orang Israel sendiri karena dia meminta supaya ada perundingan damai dua negara."
"Jadi kalau kita pahami itu betapa dendamnya Netanyahu dan baru sekarang dia mendapatkan seorang presiden (Donald Trump) yang bisa dia bujuk, sehingga melakukan penyerangan untuk kedua kalinya," terang Nasir Tamara.
Serangan antara duo AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu kemarin merupakan kedua kalinya.
Pertama, perang 12 hari yang dilakukan pada Juni 2025.
Setelah kurang dari 10 bulan berlalu, kini perang kembali terjadi. Namun, memang yang baru saja terjadi dimensinya lebih besar.
Baca juga: FPN: Serangan AS-Israel adalah Konflik Historis, Iran Pertaruhkan Segalanya demi Membela Palestina
Kata BRIN
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudi menyatakan, pihaknya sudah memprediksi bahwa Israel-Amerika Serikat (AS) akan menyerang Israel.
Ia menilai, perundingan antara AS dengan Iran yang sebelumnya dilakukan hanyalah gimik dari Presiden AS Donald Trump.
Nostalgiawan Wahyudi menambahkan bahwa target dari Trump memang melakukan penyerangan untuk menghancurkan fasilitas nuklir dan melemahkan sistem militer Iran.
"Serangan yang terjadi pada hari Sabtu (28/2/2026) yang cukup mendadak itu sebetulnya sudah kita antisipasi," katanya, Selasa.
"Kami dari BRIN sudah mengira bahwa sebetulnya perundingan yang sebelumnya diilakukan itu hanya gimik dari Trump yang tidak lain targetingnya memang untuk melakukan penyerangan terhadap fasilitas nuklir dari Iran dan juga melemahkan sistem militer dari Iran," lanjut Pria yang akrab disapa Wawan ini.
Lebih lanjut, Wawan berpendapat, Iran sebagai salah satu ancaman terbesar AS pada abad ini merupakan hal yang tidak terlalu benar.
"Dalam arti kalau secara langsung perang proksi antara Amerika dengan Iran itu berada pada bentangan yang cukup jauh dan itu sangat tidak mungkin itu terjadi," ucapnya.
Menurutnya, keberadaan Iran adalah sebuah ancaman bagi Israel di Timur Tengah.
"Dan sebetulnya yang menjadi ancaman tersendiri dari adanya Iran itu Israel," ungkap Wawan.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Deni)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.