Iran Vs Amerika Memanas
Pemerintah Diminta Prioritaskan Jaring Pengaman Sosial dalam Situasi Ekonomi 'Mode Perang'
Jumhur Hidayat mengatakan dalam situasi ekonimo mode perang, kebijakan fiskal pemerintah tidak bisa dijalankan seperti dalam kondisi normal.
Ringkasan Berita:
- Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat mengatakan kondisi saat ini kebijakan fiskal pemerintah tidak bisa dijalankan seperti dalam kondisi normal.
- Fokus utama anggaran negara harus diarahkan pada penguatan jaring pengaman sosial dan perlindungan masyarakat terdampak, terutama kaum buruh.
- Jika pemerintah harus menambah utang dalam rangka menghadapi krisis global, tujuannya jelas yakni melindungi rakyat terdampak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat menegaskan, dalam situasi ekonomi “mode perang” akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, kebijakan fiskal pemerintah tidak bisa dijalankan seperti dalam kondisi normal.
Menurutnya, fokus utama anggaran negara, harus diarahkan pada penguatan jaring pengaman sosial dan perlindungan masyarakat terdampak, terutama kaum buruh.
Baca juga: Baru Perang Lima Hari Versus Iran, AS Boncos! Alami Kerugian Hingga Rp 35 Triliun
Hal itu disampaikan Jumhur dalam Focus Group Discussion (FGD) KSPSI bertema “Kesiapan Buruh Indonesia dan Dunia Menghadapi Mode Perang Berkepanjangan” di Sekretariat DPP KSPSI, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dia menyatakan dapat memahami usulan kenaikan batas defisit anggaran dari 3 persen menjadi 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sebagaimana disampaikan ekonom senior Anthony Budiawan.
Namun, tambahan ruang fiskal tersebut harus diperuntukkan secara jelas bagi perlindungan rakyat.
"Kalau memang harus naik dari 3 persen ke 4 persen, kami bisa memahami. Tapi 1 persen itu harus jelas untuk cadangan subsidi dan perlindungan masyarakat terdampak, termasuk kaum buruh. Harus transparan dan diawasi ketat," kata Jumhur.
Menurutnya, apabila pemerintah harus menambah utang dalam rangka menghadapi krisis global, langkah tersebut masih dapat dimengerti selama tujuannya jelas, yakni melindungi rakyat terdampak, menjaga daya beli, dan mempertahankan stabilitas sosial-ekonomi.
Transparansi dan akuntabilitas, kata dia, menjadi kunci agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Dalam forum yang sama, Anthony Budiawan menjelaskan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif serius menghadapi kondisi yang ia sebut sebagai ekonomi “mode perang”.
Salah satu opsi yang dinilai relevan adalah menaikkan defisit anggaran menjadi 4 persen guna memperluas ruang fiskal pemerintah.
Dengan ruang fiskal yang lebih longgar, pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas perekonomian nasional, termasuk memastikan dunia usaha tetap bertahan melalui bantuan dan stimulus.
"Kalau perusahaan tidak mampu bertahan, dampaknya langsung ke buruh melalui PHK. Karena itu, harus ada jaring pengaman sosial yang kuat agar tidak terjadi gelombang PHK tanpa perlindungan," ucapnya.
Anthony menilai, dalam krisis berkepanjangan, daya beli masyarakat hampir pasti tertekan.