Kenali Jenis-jenis Kekerasan, Mayoritas Pelaku Justru Orang Terdekat
Pelaku bisa berasal dari anggota keluarga, pasangan, hingga orang di lingkungan sekitar. Misalnya ayah kandung, ayah tiri, paman, kakek atua kakak
Dalam beberapa hubungan, kekerasan psikis juga muncul dalam bentuk kontrol yang berlebihan, seperti melarang korban bertemu keluarga, teman, atau melakukan hobinya.
Karena sering dibungkus sebagai bentuk “perhatian”, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan.
3. Kekerasan dalam Hubungan Pasangan
Kekerasan dalam hubungan pasangan atau intimate partner violence merupakan salah satu yang paling sering terjadi.
Cirinya adalah hubungan yang tidak sehat.
Biasanya ada siklus yang terjadi, dimulai dari konflik atau kekerasan, kemudian pelaku meminta maaf, diikuti dengan fase “bulan madu” di mana pelaku bersikap sangat baik, memberi hadiah, atau menunjukkan penyesalan.
Setelah itu, kekerasan bisa terjadi lagi dan siklus ini berulang dalam jangka waktu lama.
Kondisi ini membuat korban sering merasa bingung dan sulit keluar dari hubungan tersebut.
4. Kekerasan Berbasis Gender Online
Bentuknya berupa pelecehan di media sosial, komentar yang merendahkan, cyberbullying, hingga cyberstalking.
Dalam beberapa kasus, penyebaran foto atau informasi pribadi tanpa izin dapat memberikan dampak serius bagi korban.
Jejak digital yang sulit dihapus juga bisa mempengaruhi kehidupan korban di masa depan, misalnya ketika mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan.
Tekanan psikologis akibat kekerasan online bahkan dapat memicu stres berat, menyakiti diri sendiri, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.
"Tidak mudah bagi korban untuk keluar dari situasi kekerasan. Banyak faktor yang membuat korban bertahan, seperti ketergantungan emosional, tekanan sosial, hingga rasa takut.
Karena itu, dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting," ujar dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kekerasan-berbasis-gender-masih-menjadi-persoalan-serius.jpg)