Sabtu, 25 April 2026

Menteri P2MI Sebut Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana jika Tanpa "Skill"

Lonjakan usia produktif di Indonesia terancam jadi bencana demografi apabila SDM tidak dipersiapkan dengan matang untuk mengisi pasar kerja global

Tribunnews.com/fersianus waku
PEKERJA MIGRAN INDONESIA - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, saat memberikan sambutan dalam acara pelepasan 344 Calon Pekerja Migran Indonesia di Universitas Binawan, Kalibata, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (Fersianus Waku) 
Ringkasan Berita:
  • Menteri P2MI Mukhtarudin, mengatakan lonjakan usia produktif di Indonesia terancam jadi bencana demografi apabila SDM tidak dipersiapkan dengan matang untuk mengisi pasar kerja global.
  • Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2030-2035. 
  • Di saat bersamaan, negara di Eropa dan sebagian Asia justru mengalami fenomena penuaan penduduk.
  • Kondisi tersebut menyebabkan negara-negara maju mengalami kekurangan tenaga kerja produktif, sementara Indonesia memiliki surplus tenaga kerja. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, mengatakan lonjakan usia produktif di Indonesia terancam menjadi bencana demografi apabila sumber daya manusia (SDM) tidak dipersiapkan dengan matang untuk mengisi pasar kerja global.

Hal itu disampaikan Mukhtarudin saat memberikan sambutan dalam acara pelepasan 344 Calon Pekerja Migran Indonesia di Universitas Binawan, Kalibata, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

"Kalau tidak kita persiapkan, maka jadi bencana demografi bagi kita. Tidak bagi nasional, bagi daerah, karena banyaknya usia produktif yang tidak produktif, artinya tidak memiliki skill, tidak memiliki kemampuan sumber daya manusia yang baik sehingga dia tidak menjadi manusia yang produktif," kata Mukhtarudin.

Menurut dia, Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi pada rentang tahun 2030 hingga 2035. 

Di saat yang bersamaan, kata dia, negara-negara di Eropa dan sebagian Asia justru mengalami fenomena aging population atau penuaan penduduk.

Mukhtarudin menuturkan, kondisi tersebut menyebabkan negara-negara maju mengalami kekurangan tenaga kerja produktif, sementara Indonesia memiliki surplus tenaga kerja. 

Namun, politikus Partai Golkar ini mengingatkan bahwa peluang emas ini hanya tersedia dalam waktu terbatas.

Baca juga: Bicara Soal Bonus Demografi, Sandiaga Uno Ingin Anak Muda Pencari Kerja Jadi Buka Lapangan Kerja

"Waktu peluang emas ini hanya kurang lebih 10 tahun ke depan yang harus kita maksimalkan dalam rangka kita mencetak sumber daya manusia agar usia produktif yang banyak ini menjadi betul-betul menjadi manusia yang produktif juga. Tidak hanya usianya saja produktif, tetapi menjadi manusia yang produktif," ujar Mukhtarudin. 

Dari ratusan pekerja terampil tersebut, beberapa di antaranya akan ditempatkan di kawasan Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan Oman. 

Selain itu, ke Jerman, Belanda, Jepang, hingga Australia. Mereka terdiri dari tenaga perawat, pramugari, hingga insinyur (Gijinkoku).

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved