Jumat, 5 Juni 2026

Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Maju Mundur Indonesia Keluar BoP meski Ada Prajurit TNI Gugur Imbas Serangan Israel

Perlukah Indonesia keluar dari BoP meski sudah ada korban akibat serangan Israel yakni prajurit TNI yang tengah bertugas di Lebanon?

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace semakin dipertanyakan setelah adanya prajurit TNI yang gugur di Lebanon akibat serangan Israel.
  • Pengamat hubungan internasional, Ferdiansyah Rivai, menilai Indonesia dalam kondisi dilematis terkait keanggotaan di BoP karena tidak murni untuk kepentingan Palestina.
  • Menurutnya, ada faktor ekonomi yang turut melatarbelakanginya.
  • Rivai meminta agar Indonesia juga tetap menyuarakan tuntutan kepada AS dan Israel pasca serangan ke Lebanon.

TRIBUNNEWS.COM - Posisi Indonesia dalam keanggotaannya di Board of Peace (BoP) semakin dipertanyakan setelah prajurit TNI menjadi korban serangan Israel saat tengah bertugas di Markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon Selatan, Minggu (29/3/2026).

Prajurit TNI yang dimaksud yakni Praka Farizal Romadhon yang gugur akibat serangan artileri Israel.

Selain korban gugur, adapula tiga prajurit TNI yang mengalami luka-luka yaitu Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.

Pasca tragedi ini, ramai desakan agar Indonesia keluar dari BoP, organisasi bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, tersebut.

Salah satu organisasi yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mendesak Indonesia untuk keluar.

"Kepada pemerintah Indonesia agar mengambil langkah diplomatik yang tegas melalui jalur bilateral maupun multilateral guna menuntut pertanggungjawaban atas insiden ini," kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Prajurit TNI Gugur Akibat Serang Israel di Lebanon, MUI Minta Pemerintah Ambil Langkah Diplomatik

Namun, pengamat hubungan internasional dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Ferdiansyah Rivai, menilai Indonesia tetap masih dalam posisi dilematis terkait status keanggotaannya di BoP meski sudah ada prajurit TNI gugur dan terluka akibat ulah Israel.

Diketahui, Israel juga menjadi salah satu anggota BoP.

Dilema Ekonomi 

Rivai menilai pemerintah Indonesia dalam posisi dilematis untuk keluar dari BoP saat ini.

Menurutnya, masuknya Indonesia sebagai anggota BoP tidak serta merta hanya untuk tercapainya rekonstruksi dan kemerdekaan Palestina saja.

Rivai menduga ada kepentingan ekonomi yang turut menjadi pertimbangan pemerintah.

"Saya mencoba untuk melihat kalkulasi politik pemerintah Indonesia bahwa keanggotaan Indonesia di BoP sebenarnya memiliki tujuan lain misalnya terkait dengan kepentingan ekonomi atau perdagangan."

"Hal ini membawa Indonesia berada ke dalam banyak posisi dilematis di percaturan geopolitik," katanya kepada Tribunnews.com, Senin.

Dia menganggap berbagai kepentingan inilah yang membuat Indonesia tidak bisa semata-mata langsung keluar dari BoP.

"Ini tentu saja membuat keputusan keluar secara tiba-tiba sudah pasti bukan hal yang bisa dengan mudah diambil oleh Prabowo," katanya.

Dua Exit Strategy Indonesia untuk Desak AS dan Israel soal Keluar dari BoP

KESEPAKATAN PRABOWO-TRUMP - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani perjanjian perdagangan di Washington DC Amerika Serikat, pada Kamis, (19/2/2026). Pemerintah RI akan fasilitasi perusahaan AS berinvestasi di sektor tambang.
KESEPAKATAN PRABOWO-TRUMP - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani perjanjian perdagangan di Washington DC Amerika Serikat, pada Kamis, (19/2/2026). Pemerintah RI akan fasilitasi perusahaan AS berinvestasi di sektor tambang. (Sekretariat Presiden)
Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved