Mengenang 45 Tahun Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla: 4 Hari Terasa di Neraka
Eksklusif! Kesaksian pramugari & co-pilot Garuda Woyla soal 4 hari mencekam di bawah ancaman bom. Simak kisah heroik pembebasannya di sini!
Situasi mereda setelah Jenderal Benny Moerdani naik ke pesawat. Dalam operasi kilat selama 3 menit itu, kelima pembajak tewas.
Penumpang selamat, namun Kapten Herman Rante gugur setelah sempat dirawat akibat luka tembak di kaki.
Trauma yang Tak Pernah Pergi
Meski selamat, luka psikis menetap selamanya.
Deliyanti mengaku rasa takut dan suara tembakan masih sering menghantuinya saat bertugas.
Namun, ia tetap profesional dan lanjut menjadi pramugari hingga 11 tahun pasca-insiden.
"Saya akan ingat peristiwa itu seumur hidup saya, tapi saya akan tetap terbang," tegasnya.
Sementara itu, Heddy Juwantoro juga tidak meninggalkan profesinya dan sempat menempuh pendidikan di Boeing Seattle, AS.
Namun, ia tak bisa menghindari trauma. Suara saklar lampu atau kunci yang diputar sering membuatnya kaget karena terdengar seperti senjata yang dikokang.
"Cuma kalau saya mendengar pistol dikokang, itu kadang-kadang saya kaget. Pokoknya ada suara krak-krak gitu meskipun cuma kunci yang dibuka, kaget saya," pungkas Heddy.
Empat hari mencekam di dalam pesawat Woyla memang berakhir dalam hitungan menit lewat penyerbuan kilat, namun bekasnya menetap seumur hidup—sebuah pengingat abadi tentang betapa mahalnya harga sebuah keselamatan di cakrawala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Mantan-pramugari-Garuda-Woyla-Deliyanti-pembajakan-pesawat-teroris-1981.jpg)