Jumat, 24 April 2026

Mengenang 45 Tahun Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla: 4 Hari Terasa di Neraka

Eksklusif! Kesaksian pramugari & co-pilot Garuda Woyla soal 4 hari mencekam di bawah ancaman bom. Simak kisah heroik pembebasannya di sini!

Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti
TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Mantan pramugari Garuda Woyla, Deliyanti (66), menceritakan kembali peristiwa pembajakan pesawat bernomor penerbangan 206 oleh lima teroris pada 45 tahun silam di Depok, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Empat hari mencekam di bawah ancaman bom tersebut berakhir setelah penyerbuan heroik Kopassus di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, yang menyelamatkan para sandera. 

Penumpang dilarang berdoa dan barang-barang berharga mereka dirampas.

"Kalau mau berdoa, dikatain, 'Sudah mau mati, baru berdoa'. Kru kami juga dimarahi, 'Kamu apa, pramugari pakaian kok di atas lutut gitu, haram haram'," tutur Deliyanti.

Pembajak bahkan melarang penumpang makan, meski Deliyanti tetap berusaha mencari cara agar perut penumpang terisi.

Di tengah ketegangan, seorang warga negara asing (WNA) memberinya kode kedipan mata.

Ternyata, itu isyarat agar Deliyanti memberi jalan karena ia hendak kabur melalui service door yang dibuka akibat suhu kabin yang panas.

"Ternyata si bule itu lari. Ga lama, 'dar-dor', apa tuh? Saya lihat dari service door, 'Waduh, mati apa enggak tuh orang?'. Sudah berdarah-darah. Akhirnya tutup service door-nya, perintah pembajak," ucapnya.

Karena permintaan pembebasan 96 tahanan peristiwa Cicendo tak kunjung dipenuhi, pembajak nekat memasang bom di luggage bin.

"Pistol dipegang Mahrizal, Abu Sofyan memasang bom di luggage bin, granat dipegang Wendy. Waduh, saya bilang sudah pasrah deh sama Allah," imbuhnya.

Detik-Detik Penyerbuan Kopassus

TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Ilustrasi aksi prajurit Kopassus dalam operasi pembebasan sandera pembajakan pesawat Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Thailand, Maret 1981 silam. Peristiwa heroik tersebut kembali dikenang oleh mantan pramugari Deliyanti dan eks co-pilot Heddy Juwantoro yang berhasil selamat dari teror selama empat hari tersebut.
TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Ilustrasi aksi prajurit Kopassus dalam operasi pembebasan sandera pembajakan pesawat Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Thailand, Maret 1981 silam. Peristiwa heroik tersebut kembali dikenang oleh mantan pramugari Deliyanti dan eks co-pilot Heddy Juwantoro yang berhasil selamat dari teror selama empat hari tersebut. (Kolase Tribun Jabar/Kompas.com)

Deliyanti bercerita, sesak di dadanya sirna saat Pemerintah pura-pura menerima tuntutan pembajak pada 30 Maret 1981 malam. 

Padahal, itu adalah jebakan agar tim Kopassus bisa masuk. Para pembajak yang merasa menang mulai lengah.

Tepat pukul 03.00 WIB dini hari, aparat menyerbu masuk dan memerintahkan semua tiarap. Dalam kondisi gelap, hanya terlihat kilatan laser.

"Suara tembakan terdengar sangat kencang. Darah berceceran. 'Astagfirullah, darah siapa nih?'. Ternyata darah Mahrizal. Dia mau membekap saya supaya si Kirang (prajurit Kopassus) enggak nembak dia, tapi Kirang lebih jago. Dibredellah si Mahrizal itu," jelasnya.

Copilot Heddy Juwantoro juga mengenang kengerian di ruang kokpit.

Ia ditodong senjata M-16 oleh aparat agar segera menyalakan lampu pesawat.

"Kan gelap, saya ditodong Kopassus, 'Nyalakan lampu! Nyalakan lampu!'. Saya coba, tapi generatornya enggak mau nyala. 'Waduh enggak mau!', 'Cepat! Cepat!' dia bilang gitu. Ya saya maklum dia stres juga karena situasi terdesak," ungkap Heddy.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved