Label Nutri Level Bakal Berlaku, Pakar Minta Ditambah Peringatan Tinggi Gula, Garam, Lemak
Nutri level adalah sistem pelabelan gizi untuk mengklasifikasikan kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan olahan.
Ringkasan Berita:
- Nutri-Level adalah sistem pelabelan gizi pada bagian depan kemasan untuk mengklasifikasikan kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan atau minuman olahan
- Pakar menilai sistem label ini masih bisa diperkuat agar lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh semua kalangan. Perlu ada tambahan pesan yang lebih jelas agar konsumen tidak salah menafsirkan informasi
- Pendekatan ini dinilai dapat membantu masyarakat yang tidak terbiasa membaca informasi teknis atau istilah gizi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penerapan nutri level yang telah resmi disetujui Badang Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjadi langkah penting dalam membantu masyarakat memahami kandungan gizi pada produk pangan olahan.
Sebagai informasi, nutri level adalah sistem pelabelan gizi pada bagian depan kemasan yang disetujui BPOM RI untuk mengklasifikasikan kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan atau minuman olahan.
Sistem tersebut mempermudah konsumen memilih produk lebih sehat melalui empat tingkat berbasis warna, dari hijau (rendah GGL) hingga merah (tinggi GGL).
Namun, pakar menilai sistem label ini masih bisa diperkuat agar lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh semua kalangan.
Dokter dan peneliti Global Health Security, Dicky Budiman menyoroti bahwa label berupa huruf dan warna saja belum tentu cukup untuk menjelaskan risiko kesehatan secara utuh.
Menurutnya, perlu ada tambahan pesan yang lebih jelas agar konsumen tidak salah menafsirkan informasi.
“Ya, berdampak dalam konteks ini, misalnya dengan penajaman terminologi. Jadi, alih-alih cuma menggunakan huruf D atau warna merah standar, regulasi sebetulnya bisa mewajibkan pencantuman teks peringatan yang lebih tegas, lebih lugas, lebih jelas," ungkapnya secara daring pada Tribunnews, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Kebijakan Nutri-Level Disetujui BPOM, Produk Pangan Akan Dipasangi Tanda Ini
"Misalnya, tambahkan keterangan eksplisit seperti tinggi gula, tinggi garam, tinggi lemak, batasi konsumsi, seperti itu,”sambungnya.
Pendekatan ini dinilai dapat membantu masyarakat yang tidak terbiasa membaca informasi teknis atau istilah gizi. Selain itu, visualisasi label juga dinilai bisa diperkuat agar lebih mudah dikenali dalam waktu singkat.
“Misalnya, visualisasi merah yang lebih dominan atau simbol peringatan di samping huruf D,” ujarnya.
Dicky menekankan bahwa tujuan dari kebijakan ini bukan untuk membatasi pilihan masyarakat, melainkan membantu mereka memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
Karena itu, edukasi publik juga menjadi bagian penting yang perlu berjalan seiring dengan kebijakan label.
“Jadi, kebijakan nutri level ini tidak boleh berdiri sendiri sebagai stiker dikemasan. Jadi, harus ada badan pom, camcase, misalnya, dengan dinas kesehatan,” jelasnya.
Dengan pendekatan yang lebih komunikatif dan edukatif, Nutri-level diharapkan tidak hanya menjadi label di kemasan.
Tapi benar-benar menjadi alat bantu yang memudahkan masyarakat dalam menjaga kesehatan sehari-hari.
Di sisi lain, penguatan kebijakan ini juga diharapkan dapat mendorong produsen untuk terus menghadirkan produk yang lebih sehat bagi konsumen.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman-1.jpg)