Senin, 13 April 2026

Kepala BPOM Pidato Ilmiah di Harvard University, Bawa Peta Indonesia Pada Strategi Kesehatan Global

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, kembali mendapat undangan prestisius di luar negeri. Ia pidato ilmiah di Harvard University.

Ringkasan Berita:
  • Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, kembali mendapat undangan prestisius di luar negeri. 
  • Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear Department of Ophthalmology at Harvard Medical School, 20 Staniford Street, Boston MA mengundangnya untuk menyampaikan pidato ilmiah. 
  • Dalam paparannya, Taruna Ikrar mengangkat dua isu besar yang saat ini menjadi perhatian dunia.

 

 

 

TRIBUNNEWS.COM, BOSTON - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, kembali mendapat undangan prestisius di luar negeri. 

Taruna Ikar diundang sebagai pembicara dalam forum akademik global pada 30–31 Maret 2026 lalu oleh Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear Department of Ophthalmology at Harvard Medical School, 20 Staniford Street, Boston MA.

Baca juga: BPOM Temukan 56 Ribu Produk Pangan Bermasalah di Ramadan 2026, Kedaluwarsa hingga Tanpa Izin Edar

Dalam forum tersebut, Taruna Ikrar membawakan topik strategis bertajuk “Global Burden of GBS Diseases & Vaccine Platforms Challenges”, yang mengupas kompleksitas beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) serta tantangan pengembangan platform vaksin modern.

Undangan tersebut secara langsung disampaikan oleh Joseph F. Arboleda-Velasquez, Associate Professor di Harvard Medical School sekaligus peneliti di Massachusetts Eye and Ear, Boston.

Bagi Taruna Ikrar, kehadirannya di Harvard bukan sekadar forum akademik, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas keilmuan sekaligus representasi Indonesia dalam percaturan kesehatan global.

“Ini saya rasakan sebagai sebuah pengakuan atas keahlian dan kepakaran yang saya miliki, sekaligus menjadi kebanggaan, baik atas nama keluarga maupun atas nama lembaga negara di Indonesia,” ujar Taruna Ikrar dalam keterangan tertulisnya diterima Tribunnews.com Selasa (31/3/2026).

Taruna menambahkan, Harvard sebagai salah satu institusi akademik terbaik dunia menjadi ruang penting dalam membentuk arah kebijakan kesehatan global berbasis sains.

Bahas Penyakit Langka hingga Tantangan Vaksin Modern

Dalam paparannya, Taruna Ikrar mengangkat dua isu besar yang saat ini menjadi perhatian dunia.

Pertama, beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS), yakni gangguan saraf langka yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Meski prevalensinya relatif rendah, dampaknya sangat signifikan terhadap sistem kesehatan, terutama karena membutuhkan perawatan intensif dan biaya tinggi.

Kedua, tantangan pengembangan platform vaksin modern, termasuk teknologi mRNA, viral vector, dan protein subunit. 

Perkembangan pesat teknologi ini membuka peluang percepatan inovasi, namun juga menuntut penguatan aspek keamanan jangka panjang, distribusi yang merata, serta peningkatan kepercayaan publik.

Dalam konteks ini, Taruna menekankan pentingnya keseimbangan antara percepatan inovasi dan prinsip 
kehati-hatian ilmiah.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved