Lingkungan Hidup
Peringati Hari Nelayan, ini Kisah Ketangguhan Nelayan Pulau Obi di Tengah Dinamika Industri
Perairan Pulau Obi masih baik, nelayan tetap produktif di tengah hilirisasi nikel.
TRIBUNNEWS.COM - Momentum Hari Nelayan Nasional yang diperingati setiap 6 April menjadi refleksi penting sebagai bentuk penghargaan terhadap para nelayan yang berperan penting dalam menyediakan sumber pangan dari laut.
Bagi banyak daerah pesisir di Indonesia, melaut bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Hasil tangkapan nelayan menjadi sumber pangan bergizi sekaligus penopang utama kehidupan masyarakat.
Gambaran itu juga terlihat di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di wilayah ini, sebagian masyarakat masih menggantungkan hidup dari laut, dengan aktivitas melaut yang terus berlangsung hingga kini.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, Pulau Obi juga mengalami perubahan seiring berkembangnya kawasan hilirisasi nikel. Kehadiran industri membawa dinamika baru di wilayah tersebut, termasuk memunculkan kekhawatiran publik terhadap potensi dampaknya terhadap lingkungan laut.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat aktivitas pertambangan kerap dikaitkan dengan perubahan kualitas lingkungan, termasuk di wilayah perairan.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan: apakah laut di sekitar Pulau Obi masih mampu mendukung aktivitas nelayan dan produktivitas perikanan seperti sebelumnya?
Kajian Ilmiah Tunjukkan Perairan Obi Masih Mendukung Kehidupan Laut
Sejumlah kajian akademik memberikan gambaran yang menjawab kekhawatiran tersebut.
Temuan ilmiah dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa kondisi perairan Pulau Obi masih berada dalam batas yang mendukung kehidupan ekosistem laut.
Guru Besar Universitas Khairun Prof. Janib Achmad menyebut, perairan Obi masih menunjukkan produktivitas yang mendukung kehidupan biota laut. Menurutnya, aktivitas nelayan yang tetap berjalan menjadi indikator yang tidak mudah diabaikan.
Pernyataan tersebut didasari hasil observasi yang dilakukan bersama organisasi lingkungan Telapak.
Dalam penelitian itu, tim menguji sejumlah parameter kualitas air laut, seperti pH, kekeruhan, total suspended solid (TSS), dan biochemical oxygen demand (BOD) yang hasilnya berada dalam standar baku mutu yang ditetapkan.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa indikator fisik perairan laut masih mendukung keberlanjutan ekologi di wilayah Pulau Obi. Ekosistem pesisir pun terpantau dalam kondisi normal.
Temuan serupa juga muncul dari penelitian yang dipimpin Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof. Dr. Ir. Etty Riani.
Dalam penelitian bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) itu, sampel yang dikumpulkan diuji untuk mengukur kandungan logam berat seperti nikel (Ni) dan besi (Fe).
Kemudian, tim peneliti juga melakukan analisis histomorfologi untuk melihat dampak kontaminasi terhadap organ-organ penting ikan, seperti hati, otot, ginjal, jantung, insang, usus, lambung, pankreas, serta limpa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/NELAYAN-DESA-SOLIGI.jpg)