Kabinet Prabowo Gibran
Presiden Prabowo: Apa Saya Pernah Omdo?
Presiden Prabowo tantang publik tagih janji pembangunan 1.000 desa nelayan. Minta rakyat catat rekamannya: Apa saya pernah omdo?
Ringkasan Berita:
- Tantangan Terbuka: Presiden Prabowo meminta publik mencatat rekam jejaknya dan menantang masyarakat menagih realisasi janji pemerintah di masa depan nanti.
- Target Terukur: Pembangunan seribu desa nelayan menjadi tolok ukur keberhasilan kerja yang dapat diaudit langsung oleh publik pada Desember tahun ini.
- Kerja Nyata: Prabowo menegaskan kunjungan luar negerinya dilakukan demi mengamankan pasokan energi nasional tanpa mengenal waktu libur di tengah situasi dunia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam merealisasikan seluruh janji politik yang telah disampaikan.
Dengan gaya bicara yang lugas, Kepala Negara menantang publik untuk mencatat rekam jejaknya dan menagih hasil kerjanya secara langsung di masa depan.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam Rapat Kerja Pemerintah yang dihadiri anggota Kabinet Merah Putih, pejabat eselon I K/L, serta jajaran Dirut BUMN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Prabowo menekankan bahwa setiap target strategis pemerintah, mulai dari swasembada energi hingga infrastruktur, memiliki tolok ukur matematis yang terdokumentasi secara resmi.
"Saudara-saudara, jadi 2 tahun lagi, saudara-saudara 3 tahun lagi, you catat ya, ini kan ada rekaman. Apa Prabowo Subianto pernah omdo (omong doang)? Ada rekaman," ujar Presiden Prabowo di hadapan para peserta rapat.
Tantang Audit Desa Nelayan
Salah satu janji konkret yang dijadikan barometer oleh Presiden adalah pembangunan desa nelayan.
Ia meminta masyarakat untuk melakukan audit langsung terhadap capaian pemerintah pada akhir tahun ini sebagai bentuk transparansi dan pembuktian kinerja.
"Semua yang saya sampaikan ada tolak ukur, matematik. Saya katakan bahwa saya merencanakan akan membangun 1.000 desa nelayan tahun 2026. Ini Desember 2026, kami akan cek. Saudara nanti bisa tagih ke Prabowo, berapa desa nelayan yang sudah selesai," tuturnya.
Baca juga: Purbaya Mengaku Kecolongan 21 Ribu Motor Listrik untuk SPPG, Langsung Setop Anggaran
Klarifikasi Kunjungan Luar Negeri
Eks Danjen Kopassus tersebut juga merespons sorotan publik terkait intensitas kunjungan kerjanya ke luar negeri.
Prabowo menegaskan bahwa mobilitas tersebut bukan untuk kesenangan pribadi, melainkan langkah diplomasi demi mengamankan ketahanan energi nasional.
"Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri, senang jalan-jalan ke luar negeri. Untuk amankan minyak, ya gue harus ke mana-mana. Kita ke Jepang kemarin ya, kita dapat. Nih, saya mau berangkat lagi ke sebuah negara," tegasnya.
Ia juga mengungkapkan realitas beban kerja sebagai Presiden yang menurutnya sangat tinggi dan tidak mengenal waktu libur.
"Jangan anggap ini pekerjaan yang enak. Yang mau jadi Presiden, selamat. Benar-benar, aku sudah terlanjur, jadi aku harus kerja keras sekarang ini. Saya enggak ada libur," tambah Prabowo.
Menutup arahannya, Presiden mengaku tetap optimistis menghadapi situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Ia meyakini posisi Indonesia saat ini berada pada jalur yang cerah dibandingkan negara-negara lain yang tengah mengalami krisis.
"Saya ini confident. Bagi saya Indonesia gelap itu tidak ada. Indonesia cerah di saat banyak negara susah," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Prabowo-Subianto-pidato-taklimat-dalam-rapat-kerja-bersama-anggota-Kabinet-Merah-Putih.jpg)