Bukan Sekadar Penonton, Perempuan Jadi ‘Benteng Terakhir’ Pelestari Hutan Indonesia
Di balik rimbunnya hutan Indonesia, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam senyap.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di balik rimbunnya hutan Indonesia, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam senyap.
Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor kunci dalam menjaga ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan terhadap krisis iklim melalui praktik perhutanan sosial yang berkelanjutan.
Pesan kuat ini terangkum dalam buku Echoes of Partnership yang diluncurkan oleh KONEKSI (the Australia–Indonesia Knowledge Partnership Platform) di Katadata Lounge, Kamis (9/4/2026).
Buku ini merangkum 20 riset kolaboratif antara Indonesia dan Australia, yang menegaskan bahwa solusi iklim tidak hanya soal teknologi, tapi juga soal inklusivitas.
Peneliti BRIN, Lilis Mulyani, mengungkapkan temuan menarik dari risetnya mengenai hak pengelolaan perhutanan sosial.
Ia menemukan munculnya women champions di berbagai daerah yang berdiri di garda terdepan melawan illegal logging.
"Perempuan memiliki peran aktif yang sangat signifikan dalam merawat keberlanjutan hutan. Bahkan, keterlibatan mereka meluas hingga menjaga biodiversitas, sementara laki-laki cenderung lebih fokus pada aspek ekonomi pemanfaatan hutan," ujar Lilis.
Baca juga: Inspeksi Kondisi Sungai Citarum Kabupaten Bandung, Dedi Mulyadi Temukan Kasur hingga Pakaian Dalam
Meski regulasi tahun 2021 dan 2024 sudah memberikan ruang setara, Lilis mengakui implementasi di lapangan masih menantang.
Ia pun mendorong kebijakan afirmatif dengan target konkret: keterlibatan perempuan minimal 20-30 persen dalam perhutanan sosial agar dampak pelestarian lebih terasa nyata.
Selain perhutanan sosial, Echoes of Partnership juga menyoroti riset pemulihan Sungai Citarum melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Peneliti Monash University, Dr. Tanvi Maheswari, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis sirkular tidak hanya menekan pencemaran, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal.
“Tidak ada satu regulasi yang cocok untuk semua daerah. Setiap wilayah punya tantangan berbeda,” tegasnya.
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK, Franky Zamzani, menambahkan bahwa keterbatasan pendanaan dan koordinasi antar lembaga masih menjadi tantangan besar dalam adaptasi iklim.
Peluncuran Echoes of Partnership menjadi bagian dari rangkaian menuju Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Summit pada 28–29 April 2026.
Buku ini menegaskan bahwa solusi iklim berkelanjutan hanya dapat tercapai jika kelompok rentan, termasuk perempuan, dilibatkan secara aktif dalam setiap tahap pengambilan keputusan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peluncuran-buku-Echoes-of-Partnership.jpg)