Bedah Tantangan Media, AMSI Tekankan Pentingnya Kesetaraan Dalam Ekosistem Digital
AMSI membedah tantangan industri media di tengah transformasi digital. Soroti pentingnya kesetaraan dalam ekosistem digital
Ringkasan Berita:
- Keberlanjutan jurnalisme di tengah transformasi digital sangat bergantung pada fondasi ekonomi dan tata kelola yang kuat
- AMSI menekankan pentingnya kesetaraan dalam ekosistem digital, terutama dalam relasi antara media dan platform teknologi
- Jurnalisme bekerja dalam kerangka hukum dan etika, termasuk tunduk pada Undang-Undang Pers dan kode etik jurnalistik
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) membedah tantangan industri media di tengah transformasi digital.
Saat ini lanskap informasi di Indonesia tengah mengalami pergeseran besar.
Di satu sisi, media arus utama menghadapi tekanan disrupsi digital serta penurunan trafik dan revenue.
Di sisi lain, influencer muncul sebagai kekuatan baru dengan jangkauan luas dan tingkat keterlibatan tinggi.
Dalam forum "Diseminasi Riset Influencers dan Keberlanjutan Media di Indonesia" yang digelar AMSI bekerja sama dengan BBC Media Action (BBC MA), dengan dukungan dari IDN Times, para pembicara menyoroti dinamika kompleks sekaligus peluang di antara media arus utama dan influencer.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan keberlanjutan jurnalisme di tengah transformasi digital sangat bergantung pada fondasi ekonomi dan tata kelola yang kuat.
Baca juga: Platform Asing Untung, Media Lokal Buntung? AMSI Bongkar Dampak Perjanjian Dagang Indonesia–AS
“Perkembangan platform AI menandai babak baru bagi masa depan para news creator. Namun pada akhirnya, jurnalisme berkualitas tetap bergantung pada model bisnis yang sehat dan sumber pendapatan yang berkelanjutan,” kata Wahyu Dhyatmika dalam keterangan di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Ia juga menyoroti pentingnya kesetaraan dalam ekosistem digital, terutama dalam relasi antara media dan platform teknologi.
“Keterlibatan platform AI perlu diiringi dengan mekanisme yang adil, termasuk kompensasi yang layak atas penggunaan konten berita. Ini penting untuk memastikan keberlanjutan industri media,” ujarnya.
Menuntut Pendekatan Kolaboratif
Sementara itu, Country Director Indonesia and Pacific BBC Media Action, Rachael McGuinn, menekankan bahwa perubahan perilaku audiens menuntut pendekatan kolaboratif antara media dan kreator konten.
“Semakin banyak generasi muda yang mengakses informasi dari platform sosial. Karena itu, penting untuk menjembatani kesenjangan antara media arus utama dan kreator konten, agar informasi yang beredar tetap kredibel dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Baca juga: AMSI Dukung Penguatan Peran Dewan Pers di Era Digital
Ia juga menegaskan kolaborasi lintas aktor menjadi kunci dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
“Media, kreator konten, dan influencer bukan hanya berkompetisi, tetapi merupakan bagian dari ekosistem yang sama. Kolaborasi di antara mereka penting untuk memperkuat kualitas informasi publik,” jelasnya.
Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, menekankan media dan influencer memiliki kekuatan berbeda yang sebenarnya saling melengkapi.
Media unggul dalam kredibilitas dan proses verifikasi, sementara influencer memiliki aksesibilitas dan engagement yang tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/AMSI-menggelar-diskusi-3210.jpg)