Buku Saku 0 Persen oleh Kantor Staf Presiden, Ini Respons IJTI dan Kulturolog
Buku Saku Program 0 Persen diluncurkan, IJTI dan kulturolog nilai perkuat transparansi, literasi publik, dan kepercayaan masyarakat
“Oleh karena itu, inisiatif KSP ini patut diapresiasi dan diharapkan dapat terus diperbarui secara berkala agar tetap relevan dengan dinamika kebijakan dan kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.
Menutup pernyataannya, Herik berharap buku ini mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Semoga buku saku ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi jembatan yang memperkuat sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata dan berkeadilan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Tanggapan Kulturolog
Sementara itu, kulturolog Indonesia, Iwan Jaconiah, menilai buku saku ini sebagai bagian dari narasi besar pembangunan kesejahteraan nasional di era pemerintahan Prabowo Subianto.
“Visi besar ‘Bersama Indonesia Maju’ yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tak sekadar slogan politik, namun sebuah komitmen transformatif untuk memperkuat fondasi bangsa,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa program kesejahteraan merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat.
“Melalui berbagai program dukungan kesejahteraan, pemerintah berupaya mewujudkan filosofi ‘Negara Hadir’—sebuah kondisi di mana instrumen kekuasaan digunakan sepenuhnya untuk melindungi dan mengangkat derajat kelompok yang paling rentan,” jelasnya.
Menurut Iwan, kehadiran negara yang konsisten akan melahirkan kekuatan sosial baru.
“Ketika negara hadir secara nyata di tengah masyarakat, maka terciptalah ‘Rakyat Kuat’ yang menjadi mesin utama penggerak menuju ‘Indonesia Maju’,” urainya.
Ia juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai contoh konkret implementasi kebijakan kesejahteraan.
“Salah satu manifestasi paling nyata dari dukungan kesejahteraan ini adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG),” katanya.
Program tersebut dinilai memiliki dampak strategis terhadap pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi lokal.
“Nutrisi yang baik adalah prasyarat mutlak bagi konsentrasi belajar dan produktivitas masa depan,” bebernya.
“Hal ini menciptakan jutaan lapangan kerja baru di tingkat desa dan kecamatan, memastikan bahwa uang rakyat kembali berputar di tengah rakyat sendiri,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga transparansi dan kesiapan sistem dalam implementasi program.