Ingatkan Warisan Bung Karno-KH Wahab, Said Abdullah: Halal Bihalal Adalah Sarana Merawat Persatuan
Said Abdullah menekankan pentingnya menjaga sinergi antara kekuatan nasionalis dan religius, khususnya antara PDIP dan NU di Jawa Timur.
Ringkasan Berita:
- Said Abdulah menyebut bahwa identitas Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari basis "Ijo-Abang"
- PDI Perjuangan senantiasa memedomani nilai-nilai Islam Wasathiyah atau Islam moderat yang menekankan prinsip pertengahan, adil, seimbang, dan toleran
- Tradisi Halal Bihalal lahir dari pemikiran tokoh pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, bersama Proklamator Bung Karno pada tahun 1948
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah menekankan pentingnya menjaga sinergi antara kekuatan nasionalis dan religius, khususnya antara PDI Perjuangan dan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Jawa Timur.
Said menyebut bahwa identitas Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari basis "Ijo-Abang" (hijau-merah), yakni santri sebagai cerminan NU dan abangan sebagai kekuatan nasionalis PDI Perjuangan.
Menurut Said, pembelahan sosial yang dulu sempat digambarkan sosiolog Clifford Geertz kini semakin melebur, di mana banyak warga nahdliyin yang memberikan kepercayaan politiknya kepada PDI Perjuangan.
"Oleh sebab itu, PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU. Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu saja, yang satu rajin salat, yang satu kurang rajin salat," kata Said Abdullah dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Minggu (12/4/2026).
Said menambahkan, kedua kelompok ini pada dasarnya memiliki akar dan nasib yang sama di tengah masyarakat.
Baca juga: Politikus PDIP Said Abdullah Bagikan Zakat Mal ke Ribuan Warga Sumenep, Berapa Kekayaannya?
"Tetapi nasibnya sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak. Banyak kesamaannya, minim perbedaannya," ungkap Said.
Lebih lanjut, Said menegaskan bahwa PDI Perjuangan senantiasa memedomani nilai-nilai Islam Wasathiyah atau Islam moderat yang menekankan prinsip pertengahan, adil, seimbang, dan toleran.
Hal ini, menurutnya, sejalan dengan nafas perjuangan NU yang menolak ekstremisme.
PDI Perjuangan, kata Said, ingin menghadirkan Islam yang memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian bagi seluruh anak bangsa, termasuk kelompok minoritas.
Baca juga: Said Abdullah PDIP Soroti Anomali Ekonomi 2025: Pertumbuhan 5,11 Persen tapi Penerimaan Shortfall’
"Tugas politik PDI Perjuangan adalah memperjuangkan kebijakan di pemerintahan daerah, DPRD, hingga pusat untuk menyejahterakan warga NU dan rakyat Jawa Timur keseluruhan," jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Banggar DPR RI tersebut.
Dalam kesempatan itu, Said juga mengajak para tokoh NU, mulai dari Kiai, Gus, hingga Ning, untuk ikut melakukan ijtihad politik bersama PDI Perjuangan.
Ia mencontohkan tokoh-tokoh seperti KH Dr Abdullah Azwar Anas dan Gus Wahab yang telah menjadikan banteng sebagai rumah politiknya.
"Saya berharap para kiai dan gus ikut berijtihad politik, membersamai PDI Perjuangan, agar tadinya anak-anak ini kurang baik ibadahnya, kemudian menjadi lebih baik. Berdakwah dan membersamai PDI Perjuangan itu ganjarannya berlipat ganda," tuturnya.
Sejarah Halal Bihalal
Said juga mengulas kembali sejarah tradisi Halal Bihalal yang lahir dari pemikiran tokoh pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, bersama Proklamator Bung Karno pada tahun 1948.
Kala itu, Indonesia yang baru merdeka tengah menghadapi konflik politik aliran yang tajam. KH Wahab Hasbullah mengusulkan istilah Halal Bihalal kepada Bung Karno sebagai sarana silaturahmi untuk menjahit kembali persatuan nasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ketua-DPD-PDI-Perjuangan-Jawa-Timur-Said-Abdullah-349.jpg)