Senin, 20 April 2026

Mendikdasmen Dorong Model Pembelajaran yang Melatih Nalar Kritis Pelajar Berdiplomasi

Mendikdasmen Abdul Mu'ti, menilai forum Model United Nations (MUN) dapat mengasah kemampuan berpikir kritis para pelajar di bidang diplomasi.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Tribunnews.com/Fahdi Fahlevi
Abdul Mu'ti saat menghadiri Al-Muhajirien Model United Nations (AMUN) 2026 di Bekasi, Jawa Barat.  

Ringkasan Berita:
  • Kemampuan berpikir kritis para pelajar di bidang diplomasi bisa diasah dengan model pembelajaran berbasis pengalaman. 
  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti, menilai forum Model United Nations (MUN) dapat mengasah kemampuan ini.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menilai forum Model United Nations (MUN) dapat mengasah kemampuan berpikir kritis para pelajar di bidang diplomasi.

Menurut Abdul Mu'ti, pembelajaran berbasis pengalaman seperti MUN memungkinkan siswa mempraktikkan langsung keterampilannya. 

Baca juga: Mendikdasmen Targetkan Tambahan Perbaikan 60 Ribu Sekolah, Prioritas Daerah Terdampak Bencana

"Program seperti ini sejalan dengan upaya kita dalam membangun generasi Indonesia yang tangguh, yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, serta kesiapan untuk berkompetisi secara global,” ujar Abdul Mu'ti. 

Hal tersebut disampaikan Abdul Mu'ti saat menghadiri Al-Muhajirien Model United Nations (AMUN) 2026 di Bekasi, Jawa Barat. 

Ia menegaskan, penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045, di mana pendidikan harus mampu melahirkan calon pemimpin masa depan.

AMUN 2026 sendiri merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mempertemukan pelajar dalam forum diplomasi internasional. 

Selama dua hari, peserta menjalani proses mulai dari penyusunan posisi negara, penyampaian argumen, negosiasi, hingga perumusan resolusi atas berbagai isu global.

Konferensi ini menghadirkan dua council utama, yakni UNESCO dan WHO. Pada council UNESCO, delegasi membahas isu perundungan siber dan pentingnya menciptakan ruang digital yang aman bagi pelajar. 

Sementara council WHO mengangkat topik perlindungan pengetahuan tradisional dalam pengobatan yang tetap harus melalui validasi ilmiah.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, turut menilai kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran kontekstual yang tidak selalu didapatkan di ruang kelas.

"Ini bukan sekadar kegiatan, tetapi simulasi dunia nyata. Di sini para peserta belajar bagaimana menyampaikan gagasan, bernegosiasi, dan memahami cara dunia bekerja," katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Waqaf Al-Muhajirien Jakapermai, Mohammad Syafiudin, menjelaskan AMUN berfokus pada penguatan komunikasi, berpikir kritis, dan keberanian berpendapat.

Presiden International Global Network, Muhammad Fahrizal, menambahkan bahwa MUN menjadi sarana pembelajaran yang menghadirkan pengalaman global secara langsung bagi pelajar.

"Melalui MUN, para pelajar tidak hanya mempelajari teori, tetapi langsung dihadapkan pada isu-isu dunia nyata, beragam perspektif internasional, serta proses diplomasi yang kompleks," jelasnya.

Sebagai bagian dari pembukaan, Alnine Choir dari SD Islam Al Azhar 9 turut tampil membawakan lagu Indonesia Raya, Mars Yayasan, serta lagu “Hari Baru” karya Dwiki Dharmawan.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved