Jumat, 24 April 2026

Khutbah Jumat Hari Ini, 24 April 2026: Penjelasan dan Manfaat dari Haji yang Mabrur

Berikut contoh khutbah untuk hari ini, Jumat (24/4/2026) dengan tema "Penjelasan dan Manfaat dari Haji yang Mabrur".

Istimewa
KHUTBAH SHALAT JUMAT - Ustadz mengisi khutbah di Masjid Al Husna, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (15/6/2025). Berikut teks khutbah Jumat hari ini (24/4/2026) bertema "Penjelasan dan Manfaat dari Haji yang Mabrur". 

TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat umumnya disampaikan saat hari Jumat tepatnya saat ibadah shalat Jumat dilaksanakan.

Kata 'khutbah' berasal dari bahasa Arab khotbah yang memiliki arti 'pidato' atau 'ceramah'.

Mengutip dari baznas.go.id, mendengarkan khutbah adalah amalan yang membuat hari Jumat menjadi spesial.

Mengutip dari kemenag.go.id, khutbah umumnya berisi nasihat, ajakan, perintah, atau informasi yang bermanfaat untuk masyarakat.

Berikut Tribunnews rangkum contoh teks khutbah untuk hari ini, Jumat (24/4/2026), dengan tema "Penjelasan dan Manfaat dari Haji yang Mabrur" dikutip dari mui.or.id.

Naskah khutbah dalam artikel ini akan membahas tentang penjelasan dan manfaat dari ibadah haji di tanah suci yang mabrur.

Baca juga: Masih Punya Utang tapi Ingin Haji, Boleh atau Tidak? Ini Penjelasannya

Khutbah Jumat: Penjelasan dan Manfaat dari Haji yang Mabrur

Khutbah I

اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ شَرَّفَ الْإِنْسَانَ عَلٰى سَائِرِ الْحَيَوَانِ، وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُوْحِهِ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَاَلْهَمَ مَنْ يُرِيْدُ بِهِ خَيْررَ التَّفَقُّهِ فِى شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيْمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْوَاحِدُ الْمَنَّانُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ ااِلٰى كَافَّةِ الْخَلْقِ بِالْحَقِّ وَالْقُرْآنِ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّااهِرِيْنَ مِنَ الْأَدْنَاسِ وَالْأَدْرَانِ. أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْلْاِحْسَانِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآعِبَادَاللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى : اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَللْبَابِ

صدق الله العظيم

Jemaah shalat jumat hari ini
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan kita menuju akhirat.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

"Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Di bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh kemuliaan. Di bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia menunaikan salah satu rukun Islam, yaitu ibadah haji. Haji merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

..... ۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
"Kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Dan barang siapa yang ingkar (tidak melaksanakan), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam." (QS Ali ‘Imran: 97)

Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju tanah suci. Haji adalah perjalanan iman, ketundukan, dan pengorbanan. Tujuan akhirnya bukan hanya menyelesaikan manasik, tapi meraih “haji yang mabrur”.

Apa itu haji yang mabrur? Rasulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ

"Haji yang mabrur tidak ada balasan lain baginya kecuali surga." (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut hadits ini, Nabi menyebutkan bahwa haji mabrur adalah ibadah yang sangat agung nilainya di sisi Allah, karena langsung dijanjikan surga sebagai balasannya.

Seperti apa ciri ciri haji yang mabrur?

1. Diniatkan dengan ikhlas karena Allah

Haji bukan untuk pamer, bukan karena status sosial, tapi karena ketaatan kepada perintah Allah.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR Bukhari dan Muslim)

Adanya niat ikhlas karena Allah adalah fondasi dari ibadah haji. Tanpa keikhlasan, haji bisa menjadi perjalanan fisik belaka tanpa nilai ibadah yang sejati. Maka, penting bagi setiap muslim yang ingin berhaji untuk meluruskan niatnya hanya karena Allah semata.

2. Dilaksanakan sesuai tuntunan Nabi SAW sebagaimana sabdanya :

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

"Ambillah dariku tata cara manasik kalian." (HR Muslim)

Menunaikan haji sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW berarti menjadikan beliau sebagai pedoman dalam setiap aspek ibadah haji. Dengan mengikuti cara beliau, seorang muslim menunjukkan ketaatan yang sejati, menjaga kemurnian ibadah, dan berharap agar hajinya diterima oleh Allah dan menjadi haji mabrur.

3. Menjaga diri dari rafats, fusuq, dan jidal.

Menjaga diri dari rafats, fusuq, dan jidal selama haji merupakan perintah langsung dari Allah untuk menjaga kesucian dan kekhusyukan ibadah haji. Ibadah haji bukan hanya sekadar menjalankan manasik, tapi juga latihan spiritual untuk menjadi manusia yang lebih sabar, bersih dari dosa, dan berakhlak mulia. Inilah jalan untuk meraih haji mabrur—haji yang diterima oleh Allah dan berdampak nyata dalam perubahan hidup.

Sebagaimana firman Allah:

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

"Barangsiapa yang telah menetapkan niat haji, maka tidak boleh berkata kotor, berbuat maksiat, atau bertengkar." (QS Al-Baqarah: 197)

4. Meningkatkan amal shalih dan akhlak setelah haji

Ibadah haji bukan sekadar ibadah ritual semata, tapi harus berdampak pada kehidupan sehari-hari penuh kepatuhan kepada Allah, dan menghasilkan perubahan hidup yang nyata setelah pulang dari tanah suci. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barangsiapa berhaji, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat dosa, maka ia pulang seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya." (HR Bukhari dan Muslim)

Jemaah shalat jumat hari ini

Kita semua berharap dapat berhaji dan meraih predikat “haji mabrur”. Namun bagi yang belum berkesempatan berhaji, janganlah berkecil hati. Kita masih bisa meraih pahala besar dengan amalan-amalan lain, seperti puasa Arafah yakni puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, yaitu hari ketika jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah, salah satu puncak ibadah dalam haji.

Bagi muslim yang tidak sedang berhaji, puasa ini sangat dianjurkan karena keutamaannya yang luar biasa. Sehubungan dengan puasa arafah Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya : "Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR Muslim).

Artinya: Allah akan mengampuni dosa kecil selama dua tahun (tahun lalu dan tahun yang akan datang) bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas pada hari Arafah.

Berqurban bagi yang mampu, namun bagi yang belum mendapatkan kesempatan haji, berqurban adalah jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meskipun haji adalah ibadah yang sangat utama, namun berqurban juga merupakan ibadah besar yang disyariatkan, terutama bagi yang mampu secara finansial.

Berzikir, doa, dan takbir di 10 hari pertama Dzulhijjah. Umat Islam yang belum bisa melaksanakan ibadah haji tetap dapat meraih keutamaan dan pahala besar dengan memperbanyak ibadah seperti zikir, doa, dan takbir selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Hal in merupakan bentuk ibadah yang dianjurkan sebagai alternatif bagi yang belum bisa pergi haji.
Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya :“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada 10 hari pertama Dzulhijjah.” (HR Bukhari).

Jemaah shalat jumat siang ini

Mari kita senantiasa mendoakan saudara-saudara kita yang sedang berhaji agar mendapat haji yang mabrur, diberikan kesehatan dan keselamatan hingga kembali ke tanah air dan semoga Allah memberikan kita kesempatan menunaikan ibadah haji di masa mendatang. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin

Khutbah II

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِننْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إإِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Baca juga: Teks Khutbah Jumat, 17 April 2026: Menumbuhkan Niat untuk Haji ke Tanah Suci

Syarat Khutbah Jumat yang Sah Menurut Ulama:

Berikut syarat-syarat berkhutbah yang baik dan sah menurut para ulama, dikutip dari gramedia.com:

  • Khatib berdiri di hadapan jemaah atau orang banyak.
  • Khutbah Jumat dilakukan dua kali setelah tergelincir matahari dengan ringan atau pendek dari bacaan salat.
  • Disunahkan membaca tahmid atau puji-pujian kepada Allah SWT, selawat kepada Nabi SAW, wasiat takwa, doa, dan membaca ayat Alquran saat pelaksanaan khutbah Jumat.
  • Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan di dalam masjid. Jika khutbah dilaksanakan di luar masjid, maka tidak sah karena khutbah Jumat sama seperti pelaksanan salat.
  • Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan sebelum salat. Jika dilaksanakan setelah salat, maka tidak sah.
  • Pelaksanaan khutbah Jumat dihadiri oleh jamaah salat Jumat.
  • Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan dengan suara yang nyaring, baik dengan bahasa Arab atau bahasa lainnya.
  • Duduk dengan tenang di antara dua khutbah seperti duduk antara dua sujud.
  • Pelaksanaan khutbah harus menutup aurat dan dalam keadaan suci dari hadas kecil dan hadas besar, baik badan, pakaian beserta tempatnya.

Baca juga: Khutbah Jumat 24 April 2026: Cara Hadapi Tantangan Pergolakan Zaman

Rukun Khutbah Jumat Menurut Mahzab Syafi'i

  1. Membaca Tahmid
  2. Selawat kepada Nabi Muhammad SAW
  3. Wasiat Takwa
  4. Membaca Ayat Alquran
  5. Berdoa.

(Tribunnews.com/Oktavia WW)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved