Kamis, 7 Mei 2026

Bukan Sekadar Buruh, Menteri Mukhtarudin Ingin Pekerja Migran Jadi Intelektual Bergelar Sarjana

Menteri P2MI, Mukhtarudin, saat melepas 210 pejuang devisa menuju Korea Selatan di Sawangan, Depok, Senin (27/4/2026).

Tayang:
Penulis: Dodi Esvandi
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, saat melepas 210 pejuang devisa menuju Korea Selatan di Sawangan, Depok, Senin (27/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Mukhtarudin melepas 210 pekerja migran ke Korea Selatan, menegaskan komitmen pemerintah di bawah Prabowo Subianto untuk menjamin perlindungan dari keberangkatan hingga kepulangan.
  • Pemerintah menyoroti tren 3.663 pekerja program G to G yang mengundurkan diri sejak 2021–2026, serta mengingatkan pentingnya mengikuti jalur resmi dan menyelesaikan kontrak kerja.
  • Dorongan peningkatan kapasitas dan disiplin
  • Pekerja didorong tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga meningkatkan pendidikan.

TRIBUNNEWS.COM, DEPOK – Menjadi pekerja migran bukan sekadar perkara mencari nafkah di negeri orang, melainkan sebuah misi strategis untuk membawa pulang perubahan bagi keluarga dan negara.

Pesan kuat inilah yang ditekankan oleh Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin, saat melepas 210 pejuang devisa menuju Korea Selatan di Sawangan, Depok, Senin (27/4/2026).

Di hadapan ratusan wajah penuh harapan, Mukhtarudin menegaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen penuh menjaga keamanan mereka.

Namun, ia juga menyelipkan sebuah "catatan merah" yang cukup serius: tren pengunduran diri secara sepihak.

Data menunjukkan, sepanjang 2021 hingga awal 2026, terdapat 3.663 pekerja program G to G yang mengundurkan diri atau meninggalkan tanggung jawabnya. Mukhtarudin mengingatkan agar angka ini tidak bertambah.

"Negara hadir melindungi kalian dari berangkat sampai pulang. Jadi, jangan mengundurkan diri atau kabur. Jalur resmi adalah satu-satunya jaminan keamanan kalian," tegasnya dengan nada lugas.

Bagi Mukhtarudin, mereka yang berangkat—terdiri dari 150 pekerja sektor manufaktur dan 60 di sektor perikanan—adalah orang-orang terpilih yang telah menyisihkan ribuan pendaftar lainnya.

Dengan roster yang mencapai 8.000 orang, kesempatan ini adalah kemewahan yang tidak boleh disia-siakan.

Kuliah Sambil Kerja

Salah satu angle menarik yang ditawarkan kementerian adalah program peningkatan kapasitas diri. Pemerintah tidak ingin pekerja migran pulang hanya membawa modal uang, tapi juga ilmu.

Melalui sinergi dengan Universitas Terbuka (UT) dan Kemendikdasmen, para pekerja kini didorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana atau mengikuti program Kejar Paket C di sela-sela waktu kerja mereka.

"Kami ingin menciptakan brain gain effect. Artinya, saat kembali ke tanah air nanti, saudara-saudara membawa keterampilan baru dan pola pikir global yang bermanfaat bagi negeri," tambah Mukhtarudin.

Sebelum menutup arahannya, Menteri Mukhtarudin menitipkan tujuh pesan utama yang harus dipegang teguh sebagai bekal hidup di Korea Selatan:

  • Patuhi Hukum: Jadilah warga negara yang taat pada aturan setempat.
  • Jaga Performa: Kinerja Anda adalah cerminan citra bangsa Indonesia.
  • Adaptasi Tinggi: Selami budaya kerja Korea yang menuntut disiplin baja.
  • Kelola Keuangan: Jangan terjebak perilaku konsumtif; menabunglah untuk masa depan.
  • Jauhi Judi Online: Hindari penyakit digital yang bisa menghancurkan masa depan dalam sekejap.
  • Waspada Penipuan: Tetap berhati-hati terhadap skema phishing dan scam online.
  • Terus Belajar: Manfaatkan setiap detik untuk memperkaya kompetensi diri.

Keberangkatan ini merupakan hasil seleksi panjang periode 2023–2025 yang didominasi oleh lulusan SMA/SMK.

Bagi mereka, perjalanan ke Korea Selatan bukan sekadar kontrak kerja, melainkan babak baru untuk membuktikan bahwa tenaga kerja Indonesia mampu bersaing secara profesional di panggung internasional.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved