Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Korlantas Gunakan Metode TAA untuk Analisis Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
Metode TAA memudahkan polisi mengilustrasikan insiden yang menewaskan 16 orang tersebut.
Ringkasan Berita:
- Korlantas Polri menggunakan metode Traffic Accident Analysis untuk menyelidiki kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur,
- Metode TAA memudahkan polisi mengilustrasikan insiden yang menewaskan 16 orang tersebut.
- Metode ini menggunakan pendekatan berbasis teknologi yang memungkinkan penyidik melihat peristiwa secara menyeluruh dengan bantuan AI untuk membantu penyidik dalam merekonstruksi kejadian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Korlantas Polri menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) untuk menyelidiki kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam, 27 April 2026.
Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, mengatakan timnya telah melakukan serangkaian pemindaian di tempat kejadian perkara (TKP).
“Korlantas telah melaksanakan TAA di TKP,” kata Sandhi saat dihubungi, Rabu (29/4/2026). Metode TAA memudahkan polisi mengilustrasikan insiden yang menewaskan 16 orang tersebut.
“TAA dilakukan dengan cara scanning lingkungan di TKP, scanning BB Taxi, serta scanning kereta api yang bertujuan untuk mengilustrasikan kejadian Laka pada saat sebelum, ketika, serta pasca kecelakaan. Hal ini bertujuan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan menentukan strategi penyidikan lebih lanjut,” jelasnya.
Sandhi menyebut metode ini menggunakan pendekatan berbasis teknologi yang memungkinkan penyidik melihat peristiwa secara menyeluruh dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu penyidik dalam merekonstruksi kejadian.
“Jadi kami dari Korlantas menurunkan tim TAA atau Traffic Accident Analysis. Adalah sebuah metode penyidikan berbasis teknologi yang digunakan oleh Polri dalam rangka melihat secara empat dimensi terkait dengan kejadian sebelum, pada saat, dan setelah kecelakaan itu terjadi,” tuturnya.
Baca juga: Menko AHY: Gerbong Perempuan dan Laki-Laki Sama-sama Berisiko, Jangan Bedakan Gender
“Jadi ilustrasi berbasis Artificial Intelligence atau AI yang kami gunakan untuk memudahkan penyidik laka lantas Polri dalam rangka membuat sebuah perkara kejahatan kecelakaan lalu lintas semakin terang benderang, semakin jelas."
"Sehingga mampu memberikan strategi yang cukup tepat untuk disajikan kepada Criminal Justice System, untuk disajikan kepada jaksa penuntut maupun kepada hakim,” sambungnya.
Dari sisi teknis, kata dia, terdapat dua jenis teknologi utama yang digunakan dalam proses analisis tersebut.
Baca juga: Kemenhub Akan Alihkan Pengelolaan Prasarana Kereta ke KAI
“Secara teknis TAA ini kami ada dua teknologi yang kami gunakan. Yang pertama adalah teknologi statis dengan kamera LiDAR serta kamera 360 derajat di mana mampu mendeteksi environment ataupun lingkungan secara menyeluruh, serta teknologi drone, teknologi portable yang mampu melihat melalui pola helicopter view,” jelasnya.
“Jadi melihat dari secara menyeluruh terkait dengan lingkungan sekitar TKP, kemudian jejak-jejak kecelakaan, bahkan barang bukti akibat dari proses kejadian kecelakaan,” tukasnya.
Korban Tewas Bertambah Jadi 16 Orang
Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur Senin (27/4/2026) malam hari ini bertambah 1 orang menjadi total 16 orang.
"Korban meninggal dunia bertambah satu orang sehingga total menjadi 16 orang, kami berharap tidak ada lagi penambahan korban,” ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan Rabu (29/4/2026).
Korban meninggal hari ini sempat dirawat di ruang ICU RSUD Bekasi. "Ini menjadi keprihatinan kita bersama saat ini penyidik masih mendalami rangkaian kejadian secara komprehensif,” ujar Kombes Budi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemulangan-Jenazah-Korban-Kecelakaan-Kereta-Api-Bekasi-Timur_20260428_194931.jpg)