Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
46 Tahun Cuma Modal Bambu, Perlintasan Maut Ampera Bekasi Akhirnya Dipasang Palang Pintu!
Akhir riwayat bambu di Ampera Bekasi! Usai tragedi KRL, palang pintu resmi dipasang & flyover siap dibangun. Cek instruksi Presiden Prabowo!
Ringkasan Berita:
- Buntut tragedi maut yang tewaskan 16 penumpang perempuan, perlintasan Ampera Bekasi akhirnya punya palang resmi!
- Terungkap kronologi horor! Taksi listrik mogok jadi awal petaka KA Argo Bromo hantam KRL di Bekasi Timur.
- Penantian 46 tahun berakhir! Intip rencana Presiden Prabowo bangun flyover maut Bulak Kapal dalam 6 bulan.
TRIBUNNEWS.COM, BEKASI – Pemandangan berbeda terlihat di perlintasan sebidang Ampera, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu petang (29/4/2026). Titik yang menjadi pemicu awal tragedi maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut, kini mulai dipasangi palang pintu resmi setelah puluhan tahun terabaikan.
Sejumlah petugas KAI tampak sibuk melakukan pemasangan infrastruktur keselamatan permanen di lokasi yang selama ini hanya mengandalkan peralatan seadanya.
Langkah ini merupakan respons cepat menyusul kecelakaan beruntun pada Senin malam lalu yang menewaskan 16 orang dan melukai 90 lainnya di Stasiun Bekasi Timur, yang berjarak hanya sekitar 100 meter dari perlintasan Ampera.
Petaka memilukan itu bermula saat sebuah taksi listrik mengalami korsleting hingga mogok di tengah perlintasan dekat Bulak Kapal sekitar pukul 20.00 WIB.
Taksi hijau tersebut kemudian tertemper KRL rute Kampung Bandan–Cikarang, yang mengakibatkan rangkaian kereta terhenti darurat di jalur KM 28+920.
Kondisi kian mencekam saat memasuki pukul 20.57 WIB.
Di tengah kepanikan insiden pertama, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang menghantam telak bagian ekor KRL yang sedang berhenti.
Benturan hebat tersebut menghancurkan gerbong paling ujung dan merenggut nyawa seluruh penumpang perempuan yang berada di dalamnya.
Baca juga: Stasiun Bekasi Timur Mulai Layani Penumpang, KRL Lintas Bekasi–Cikarang Beroperasi Lagi
Riwayat Bambu dan Taruhan Nyawa
Selama puluhan tahun, perlintasan yang menjadi urat nadi warga Duren Jaya, Kampung Cerewet, hingga Bekasi Jaya Indah ini memang terabaikan dari sisi infrastruktur keselamatan.
Aidar, salah satu penjaga perlintasan, mengungkapkan fakta miris bahwa area tersebut tidak pernah tersentuh palang pintu resmi sejak dekade 1980-an.
"Dari tahun 80-an sudah begini," ujarnya saat ditemui di lokasi pengerjaan.
Selama ini, warga setempat secara sukarela bergantian menjaga arus kendaraan yang sangat padat hanya dengan bermodalkan sebatang bambu.
Meski menggunakan alat seadanya, Aidar menyebut angka kecelakaan di titik Ampera Bekasi sebenarnya tergolong rendah karena kewaspadaan warga.
Namun, risiko maut terbukti lebih nyata di perlintasan Bulak Kapal yang kini menjadi sorotan nasional akibat kegagalan sistem koordinasi saat insiden berdarah itu terjadi.
Baca juga: Selly Gantina Semprot Menteri PPPA Soal Gerbong Wanita: Perbaiki Sistem, Bukan Geser Penumpang!
Dana Rp4 Triliun dan Solusi Flyover
Tragedi ini akhirnya menjadi pemantik bagi Pemerintah Pusat untuk melakukan perombakan besar-besaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/palang-pintu-perlintasan-kereta-api-permanen-di-perlintasan-Ampera-Bekasi-kecelakaan.jpg)