Selasa, 5 Mei 2026

KPK Terus Selidiki Dugaan Korupsi Lahan Whoosh, Buka Peluang Terbitkan Sprindik Umum

KPK memastikan bahwa pengusutan kasus dugaan korupsi pada pengadaan lahan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) tidak jalan di tempat. 

Tayang:
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/Ilham Rian Pratama
JUBIR KPK — Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam sesi wawancara cegat bersama sejumlah awak media di Gedung KPK, Jakarta, Senin (4/5/2026). Ia membebrkan kedala penyelidikan kasus kereta api cepat atau Whoosh berjalan lambat. 

Ringkasan Berita:
  • KPK pastikan penanganan perkara pengadaan lahan proyek Kereta Cepat masih terus berjalan meskipun detailnya belum dapat diungkap ke publik
  • Mengingat keterbatasan kewenangan di tahap penyelidikan, muncul dorongan agar KPK segera menerbitkan sprindik umum
  • Penyelidikan yang dilakukan KPKsecara khusus menyoroti dugaan rasuah dalam proses pembebasan lahan untuk proyek Whoosh, bukan menyasar pada kegiatan operasional keretanya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bahwa pengusutan kasus dugaan korupsi pada pengadaan lahan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) tidak jalan di tempat. 

Di tengah proses penyelidikan yang telah memakan waktu lebih dari setahun, lembaga antirasuah ini membuka peluang untuk menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) umum guna mempercepat pengungkapan perkara.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa penanganan perkara ini masih terus berjalan meskipun detailnya belum dapat diungkap ke publik. 

Hal ini dikarenakan proses hukum masih berada pada tahap penyelidikan awal.

"Terkait dengan kereta cepat Whoosh, saat ini prosesnya masih di penyelidikan. Jadi kalau memang prosesnya masih di penyelidikan, informasinya masih bersifat tertutup. Jadi kami belum bisa menyampaikan secara terbuka, secara lengkap terkait dengan penyelidikan perkara ini. Namun yang pasti bahwa penyelidikan terkait dengan kereta cepat ini masih terus berprogres," ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026).

Merespons lamanya waktu penyelidikan yang berjalan, Budi menjelaskan bahwa hal ini murni persoalan manajemen penanganan perkara di internal KPK.

Baca juga: AHY Temui Purbaya Bahas Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh 

Saat ini, KPK tengah disibukkan dengan berbagai kasus prioritas, termasuk sejumlah Operasi Tangkap Tangan (OTT) di berbagai daerah yang menuntut proses penyidikan ekstra cepat karena terikat dengan masa penahanan tersangka.

"Kalau kita bicara peristiwa tertangkap tangan, kemudian naik ke penyidikan, pihak-pihak ditetapkan sebagai tersangka langsung dilakukan penahanan, maka ketika langsung dilakukan penahanan, argo penahanan langsung mulai berjalan. Sehingga kami juga harus sesuaikan dari sisi waktunya," kata Budi. 

Ia juga menambahkan bahwa dari hasil OTT sering kali muncul pengembangan perkara baru yang membongkar praktik serupa di sektor lain, yang pada akhirnya memakan waktu dan tenaga penyidik.

Mengingat keterbatasan kewenangan di tahap penyelidikan, muncul dorongan agar KPK segera menerbitkan sprindik umum. 

Sebagai informasi, sprindik umum adalah instrumen hukum yang digunakan ketika suatu kasus dinaikkan statusnya dari tahap penyelidikan ke penyidikan tanpa dibarengi dengan penetapan tersangka di awal.

Baca juga: KPK Telusuri Status Lahan di Wilayah Halim Jaktim Terkait Penyelidikan Korupsi Kereta Cepat Whoosh

Dengan naiknya status ke penyidikan melalui sprindik umum, KPK akan memiliki kewenangan lebih luas untuk melakukan upaya paksa, seperti penggeledahan dan penyitaan.

Ditanya mengenai kemungkinan penggunaan sprindik umum tersebut dalam kasus Whoosh, Budi tidak menampiknya dan menyebut bahwa tim terus melakukan pendalaman.

"Terkait dengan itu, nanti kami lihat perkembangannya karena memang penyelidikan ini juga masih terus berprogres. Beberapa hal dilakukan oleh kawan-kawan penyelidik," tegas Budi.

Penyelidikan yang dilakukan KPK ini secara khusus menyoroti dugaan rasuah dalam proses pembebasan lahan untuk proyek Whoosh, bukan menyasar pada kegiatan operasional keretanya. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved