Selasa, 5 Mei 2026

Ancaman Krisis Energi

Pemerintah Uji Coba CNG Pengganti LPG 3 Kg, Harga Diklaim Lebih Murah 30 Persen

Bahlil engumumkan rencana pemerintah untuk mengonversi penggunaan LPG ke Compressed Natural Gas (CNG) agar menekan ketergantungan impor.

Tayang:
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews/Nitis Hawaroh
LPG - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta Selatan, Selasa (28/10/2025). Bahlil mengumumkan rencana pemerintah untuk mengonversi penggunaan LPG ke Compressed Natural Gas (CNG) agar menekan ketergantungan impor. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah tengah melakukan uji coba modifikasi tabung CNG ukuran 3 kilogram yang diklaim memiliki harga jauh lebih ekonomis bagi masyarakat
  • Keunggulan utama dari CNG ini adalah efisiensi biaya yang signifikan dibandingkan dengan LPG konvensional
  • Bahlil menjelaskan bahwa tekanan gas pada CNG jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, sehingga memerlukan penyesuaian teknologi yang tepat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana pemerintah untuk mengonversi penggunaan LPG ke Compressed Natural Gas (CNG) agar menekan ketergantungan impor.

Saat ini, pemerintah tengah melakukan uji coba modifikasi tabung CNG ukuran 3 kilogram yang diklaim memiliki harga jauh lebih ekonomis bagi masyarakat.

Kepastian tersebut disampaikan Bahlil setelah melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Langkah ini diambil mengingat sekitar 75-80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui jalur impor yang sangat bergantung pada dinamika global.

Bahlil mengungkapkan bahwa keunggulan utama dari CNG ini adalah efisiensi biaya yang signifikan dibandingkan dengan LPG konvensional.

Penghematan itu dimungkinkan karena sumber gas yang digunakan berasal sepenuhnya dari produksi dalam negeri.

Baca juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM Subsidi, LPG, dan Tarif Listrik Tidak Akan Naik

"CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan import," ujar Bahlil.

Tantangan utama saat ini terletak pada aspek teknis keamanan tabung untuk skala rumah tangga.

Bahlil menjelaskan bahwa tekanan gas pada CNG jauh lebih tinggi dibandingkan LPG, sehingga memerlukan penyesuaian teknologi yang tepat.

Baca juga: 10 Provinsi di Indonesia Paling Banyak Gunakan LPG untuk Memasak, Kalimantan Timur Hampir 100 Persen

"Nah untuk yang 3 kg, memang tabungnya masih dilakukan uji coba. Karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200-250 bar. Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya. Kemudian kalau itu sudah dinyatakan form, kita akan melakukan konversi," ucapnya.

Meskipun akan diarahkan sebagai pengganti LPG Melon, Bahlil memastikan bahwa skema subsidi tetap menjadi bahan pertimbangan.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama inovasi ini adalah untuk meringankan beban ekonomi rakyat sekaligus menghemat devisa negara.

"Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih harus lah. Tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca. Kita kok belum buat kok, kalian sudah membuat vonis itu lho. Aku bingung," ucap Bahlil.

Dijelaskan Bahlil, pemerintah memproyeksikan efisiensi devisa yang sangat besar jika transisi ini berhasil dilakukan secara nasional.

Pemanfaatan sumber gas domestik, termasuk temuan gas baru di Kalimantan Timur, diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi tanpa harus terombang-ambing oleh harga pasar global.

"Dengan kita memakai CNG, insyaAllah kalau teknologinya sudah ada, itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kita kurang lebih sekitar Rp 130 triliun sampai Rp 137 triliun," ucapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved