Rabu, 6 Mei 2026

Lab 45 Ingatkan Bahaya Oligarki yang Melanggengkan Ketimpangan Sosial

Hariyadi Lab 45 ingatkan bahaya oligarki bagi Indonesia 2045, ancam inovasi, kelas menengah, dan stabilitas nasional

Tayang:
HO/IST
LUNCURKAN BUKU - Lembaga riset strategis Laboratorium Indonesia 2045 atau Lab 45 meluncurkan buku berjudul "Jam Pasir Indonesia: Menakar Masa Depan Indonesia Dari Butir Kuasa Dan Ketimpangan", yang berisi tentang proyeksi skenario menuju Indonesia Emas 2045. 
Ringkasan Berita:
  • Penasihat senior Lab 45, Hariyadi, menegaskan masa depan Indonesia sangat dipengaruhi oleh konsolidasi oligarki yang terus menguat.
  • Jika kondisi ini berlanjut, visi Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai karena inovasi terhambat, kelas menengah menurun, dan berpotensi memicu keresahan sosial.
  • Sebagai solusi, ia menawarkan skenario reinstitusionalisasi demokrasi agar bangsa tetap berada di jalur yang sehat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penasihat senior Laboratorium 45, Hariyadi, menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dinamika oligarki yang terus menguat. 

Menurutnya, jika konsolidasi oligarki berlanjut, maka visi Indonesia Emas 2045 akan sulit tercapai. 

“Begitu juga kita akan melihat kalau konsolidasi oligarkis itu berkesinambungan, inovasi-inovasi untuk kebaikan ke-Indonesiaan pasti akan terhambat,” ujarnya dalam peluncuran buku Jam Pasir Indonesia di Jakarta.

 

Lab 45 atau Laboratorium Indonesia 2045 adalah lembaga kajian independen yang menghimpun akademisi, praktisi, dan birokrat lintas bidang.

Lab 45 dipimpin oleh Jaleswari Pramodhawardani sebagai Kepala Laboratorium Indonesia 2045.

Hariyadi menambahkan, dampak dari konsolidasi oligarki bukan hanya pada stagnasi inovasi, tetapi juga bisa menurunkan kelas menengah dan memicu social unrest. 

Ia menilai, kondisi ini akan menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional. “Kalau kelas menengah turun, maka akan terjadi keresahan sosial yang bisa mengganggu pembangunan,” katanya, dikutip Selasa (5/5/2026).

Sebagai jalan keluar, Hariyadi menawarkan skenario reinstitusionalisasi demokrasi. Menurutnya, demokrasi yang kuat adalah satu-satunya cara untuk memastikan Indonesia tetap berada di jalur menuju 2045.

“Dengan demokrasi yang kokoh, kita bisa menghindari jebakan oligarki dan konflik identitas,” tegasnya.

Baca juga: 5G dan AI Dinilai Jadi Pilar Transformasi Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Kepala Lab 45, Jaleswari Pramodhawardani, memperkuat pandangan tersebut dengan menjelaskan makna metafora jam pasir. Ia menyebut jam pasir sebagai simbol waktu yang berjalan satu arah dan terbatas. 

“Ia memadukan dua kebenaran yang sering kita pisahkan, bahwa kita punya pilihan, dan bahwa pilihan itu punya batas waktu,” ujarnya.

Jaleswari menekankan bahwa optimisme harus disertai dengan kewaspadaan kritis. 

“Optimisme bukan tanpa kritik, bukan juga parade keputusasaan, melainkan sebuah kewaspadaan bahwa Indonesia masih mungkin maju tetapi tidak otomatis,” katanya. Dengan demikian, visi Indonesia Emas 2045 harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan.

Buku Jam Pasir Indonesia sendiri berisi analisis multidisipliner dari para penulis lintas bidang, mulai dari ekonomi, politik, antropologi, hingga birokrasi. 

Salah satu kontributor adalah mantan Gubernur Lemhannas, Andi Widjajanto, yang menyoroti pentingnya reformasi kelembagaan untuk memperkuat demokrasi.

 

Lab 45 menilai, tanpa reformasi kelembagaan, Indonesia berisiko terjebak dalam skenario konflik identitas. 

Hal ini bisa terjadi jika oligarki terus menguat dan masyarakat kehilangan ruang untuk berpartisipasi secara sehat dalam politik.

Dengan tebal 426 halaman dan 12 bab, buku ini menjadi refleksi kritis atas perjalanan bangsa. 

Ia bukan sekadar proyeksi, melainkan peringatan bahwa waktu menuju 2045 terbatas, dan pilihan arah bangsa akan menentukan apakah Indonesia mencapai kejayaan atau justru terjebak dalam konflik dan oligarki.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved